JAKARTA - Penggunaaan ganja terus meningkat sejak merebaknya pandemi Covid-19 di dunia. Tanaman hijau tersebut dianggap dapat mengurangi risiko depresi atau stres selama pemberlakuan lockdown.
BACA JUGA:Haji 2022, Ada Rompi Penurun Suhu untuk Pertolongan Pertama bagi Jamaah Heat Stroke
Dilansir dari DW, ganja telah lama menjadi obat yang paling banyak digunakan di dunia dan penggunaannya terus meningkat. Di pasaran, kandungan tetrahydrocannabinol (THC) pada ganja semakin kuat. Hal ini diungkap Kantor PBB urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC) dalam laporan tahunannya.
Berbagai negara bagian Amerika Serikat telah melegalkan penggunaan ganja non-medis, dimulai dengan Washington dan Colorado pada tahun 2012. Lalu, Uruguay pada tahun 2013, seperti halnya Kanada pada tahun 2018.
Laporan tersebut mengatakan, legalisasi ganja tampaknya telah mempercepat tren penggunaan obat tersebut setiap hari. Ditambah dengan periode lockdown dan tingkat depresi yang meningkat melambungkan konsumsi ganja di dunia.
"Periode lockdown selama pandemi COVID-19 mendorong peningkatan penggunaan ganja ... pada 2020," tulis laporan tersebut dikutip, Selasa (28/6/2022).
Sedangkan, prevalensi penggunaan ganja di kalangan remaja tidak banyak berubah.
BACA JUGA:DPR Bakal Kaji Aspirasi Penggunaan Ganja untuk Medis secara Hati-Hati
Perang Ukraina Tingkatkan Produksi Obat-obatan
Laporan UNODC juga memperingatkan bahwa perang di Ukraina dapat memungkinkan produksi obat-obatan terlarang menjadi semakin berkembang.