JAKARTA - Semua bermula ketika sekitar 18.000 pekerja divisi teknologi informasi di berbagai perusahaan dan instansi pemerintah di Amerika Serikat (AS), menerima pop-up di layar mereka. Pop-up itu masuk di dalam jaringan SolarWinds.
Dengan tanpa berpikir panjang, mereka menuruti perintah pembaruan untuk perangkat kantor mereka. Apa yang mereka tidak ketahui saat itu adalah bahwa unduhan itu merupakan sebuah jebakan.
BACA JUGA:Pernah Bertempur di Palagan Timor, SBY Hadiahkan Lukisan Persahabatan untuk Ramos Horta
SolarWinds sendiri juga tidak mengetahuinya.
Perusahaan Amerika Serikat itu menjadi korban serangan siber hanya beberapa minggu sebelumnya, ketika peretas memasukkan kode rahasia ke dalam pembaruan perangkat lunak berikutnya.
Setelah tidak aktif selama beberapa minggu, perangkat digital itu muncul di dalam ribuan jaringan komputer di instansi pemerintah, serta organisasi teknologi dan telekomunikasi di Amerika Utara, Eropa, Asia dan Timur Tengah.
Agen digital yang tidak terdeteksi itu kemudian menelepon melalui internet memberi tahu pembuatnya bahwa "kode itu sudah ada di dalam dan dapat membuka pintu agar mereka juga dapat masuk," tulis pesan tersebut seperti dikutip dari BBC, Selasa (19/7/2022).
Selama berbulan-bulan para peretas, yang kemungkinan besar adalah tim militer siber nasional, dapat memilih, memata-matai, dan mencuri informasi yang tersimpan di sekitar ribuan organisasi berbeda.
BACA JUGA:Blak-blakan Joan Laporta, Sebut Robert Lewandowski Tolak Chelsea dan PSG Demi Barcelona
Insiden yang kemudian dikenal dengan peretasan "Sunburst" ini adalah salah satu serangan siber terbesar yang pernah terjadi.
AS jadi target utama
Target utama peretasan ini besar kemungkinan adalah pemerintah AS. Beberapa jaringan kantor dilaporkan telah disusupi, termasuk Departemen Keuangan, Departemen Perdagangan, Departemen Keamanan Dalam Negeri.
Sejumlah organisasi pemerintah dan swasta di seluruh dunia sekarang berjuang untuk menonaktifkan produk SolarWinds yang terkena dampak dari serangan siber ini.
Para peneliti mengatakan perlu waktu bertahun-tahun untuk sepenuhnya memahami salah satu satu serangan siber terbesar di dunia tersebut.