Kemegahan Terowongan Niyama Tulungagung Warisan Penjajahan yang Terabaikan dan Tak Terawat

Avirista Midaada, Jurnalis
Senin 15 Agustus 2022 12:57 WIB
Terowongan Niyama di Tulungagung (foto: MPI/Avirista)
Share :

PEMBUATAN Terowongan Niyama Tulungagung semasa penjajahan Jepang diwarnai dengan kisah kelam. Sayang pasca kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, terowongan ini kurang terawat begitu maksimal. Hasilnya terowongan yang sedianya mampu mengendalikan air dan mengelola sistem pengairan di Tulungagung pun terbengkalai.

Sejarawan Tulungagung Latif Kusairi menyebut, sebenarnya terowongan ini difungsikan untuk mengelola aliran air untuk persawahan warga. Tercatat pasca dibuka pada Juli 1944, sebanyak 16.000 hektar tanah di wilayah di Campurdarat menjadi sawah yang subur.

“Sayang setelah kemerdekaan Terowongan Niyama ini tidak dirawat dengan baik sehingga terjadi pendangkalan. Hasilnya pada tahun 1955 Tulungagung kembali dilanda banjir besar, jadi tahun 1955 itu di Tulungagung banyak yang tidak melakukan pemilu,” kata Latif dikonfirmasi, Senin (15/8/2022).

 BACA JUGA:Peringati Hari Bersejarah PD II, PM Kishida Bersumpah Jepang Tidak Akan Lagi Kobarkan Perang

Pendangkalan ini yang membuat peristiwa banjir terus menerus terjadi setiap tahunnya di Kabupaten Tulungagung. Alhasil menyadari hal itu, perbaikan terowongan pun sempat dilakukan di masa orde baru di bawah Presiden Soeharto, sebab saat itu terowongan tak mampu lagi menampung debit air. Namun bukannya memperbaiki terowongan yang sudah ada, justru pemerintah kala itu membangun terowongan baru tak jauh dari Terowongan Niyama buatan Jepang.

“Proyek perbaikan terowongan pun akhirnya dimulai sejak tahun 1979 – 1986, saat itu proyek besar, tapi sayangnya daripada memperbaiki yang terowongan aslinya, akhirnya membuat terowongan yang debitnya lebih besar,” bebernya.

 BACA JUGA:Sejarah Lahirnya VOC, Latar Belakang, Tujuan, Serta kebijakannya!

Usai pembangunan Terowongan Niyama ‘baru’ ini selesai dibangun, pemerintah orde baru mencoba mengubah nama ‘Niyama’ menjadi Terowongan Sukamakmur. Hal ini terjadi karena pemerintah Orba menganggap nama ‘Niyama’ identik dengan Jepang, dan memicu histori kelam di masa lampau yang kembali.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya