Ketika saya menghubungi Komisi Tinggi Swazi, kantor perwakilan Persemakmuran eSwatini di London, untuk minta komentar, juru bicara mengatakan bahwa perubahan nama itu "tidak ada pengaruhnya untuk kebijakan dan perjanjian kami".
Saya bertanya apakah Komisi Tinggi Kerajaan Swaziland akan mengubah namanya.
"Memang," jawabnya, "nama Misi kami sekarang adalah Komisi Tinggi Kerajaan eSwatini."
Namun, tanda tangan di surel masih memakai nama lama. Bahkan pada saat artikel ini ditulis, situs web utama pemerintah eSwatini masih saja merujuk ke Swaziland.
Tetapi di sana-sini, perubahan itu benar-benar terjadi. Khususnya, dewan pariwisata eSwatini telah memasarkan dirinya sendiri. Ini penting karena, seperti halnya dewan pariwisata lain, ini adalah cara sebuah negara menampilkan dirinya ke seluruh dunia-dan dewan ini menganjurkan bahwa orang-orang di luar negeri harus menyebutnya (seperti yang saya lakukan di sini) bukan sebagai Swaziland tetapi sebagai eSwatini.
Bagaimana dengan peta dan bagan? Geografer Peter Jordan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Austria mengatakan ada perbedaan antara nama sebuah negara yang digunakan secara internal (endonim) dan nama yang dipakai orang lain untuk merujuk secara eksternal (eksonim). Bayangkan endonim Deutschland versus eksonimnya, Jerman atau Allemagne, misalnya.
"Tidak banyak perubahan yang diperlukan," jelas Jordan, "ketika Swaziland mengubah endonimnya, karena biasanya atlas dan peta menunjukkan eksonim."
Mungkin inilah mengapa, misalnya, Google Maps masih mengacu pada Swaziland meskipun layanan digital dapat diperbarui dengan sangat cepat.
Tidak semua orang mengambil sikap ini. Kedutaan AS di eSwatini dengan cepat mengubah branding—dan bahkan memperbarui akun Twitter-nya.
Pada akhirnya, individu dan organisasi di seluruh dunia kemungkinan besar hanya akan memilih nama Swaziland atau eSwatini berdasarkan pilihan pribadi. Tetapi di dalam negeri, perubahan resmi benar-benar punya signifikansi paling besar. Dan tidak semua orang yakin itu adalah penggunaan dana publik yang baik.
"Kami menolak perubahan nama […] Ini bukan hasil dari proses konsultatif," kata Mlungisi Makhanya, sekretaris jenderal Gerakan Demokrasi Rakyat (PUDEMO), partai oposisi sosialis Swazi.
Makhanya mengatakan bahwa pada dasarnya dia tidak punya masalah dengan perubahan nama, tetapi itu seharusnya direncanakan dengan lebih transparan. Dia dan yang lain khawatir soal biaya yang akan dikeluarkan, namun banyak yang takut berpendapat. (nan)
(Fahmi Firdaus )