Wabah Virus Corona Ternyata Sudah Diramal Prabu Jayabaya, Zaman Kalisengoro Cerminan Kondisi Sekarang

Natalia Bulan, Jurnalis
Kamis 25 Agustus 2022 09:21 WIB
Ramalan Jayabaya/Istimewa
Share :

JAKARTA - Fenomena wabah virus Corona yang terjadi dua tahun belakangan dan mengubah segala aspek kehidupan masyarakat ini ternyata sudah pernah diramalkan secara tersirat oleh Prabu Jayabaya.

Generasi masa kini mungkin perlu menengok ke belakang ketika penguasa ketiga Kerajaan Kediri, Prabu Jayabaya telah meramalkan kedatangan wabah ratusan tahun silam.

Dikutip dari laman Kagama, ramalan Jayabaya ini kemudian coba dibedah oleh Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara (Lokantara) Dr. Purwadi.

“Kali ilang kedhunge pasar ilang kumandhange (Sungai kehilangan kedalaman lubuknya, pasar kehilangan gema,” tutur Purwadi.

“Begitu ramalan Prabu Jayabaya dalam membaca owah gingsire jaman (perubahan zaman).”

“Sang Prabu adalah raja Kraton Kediri yang waskitho ngerti sakdurunge winarah (cerdas nan bijaksana, tahu sebelum fenomena terjadi),” jelas alumnus Fakultas Filsafat UGM ini.

Purwadi menjelaskan bahwa nasihat pujangga Kerajaan Kediri adalah yang membuat Jayabaya mengerti perubahan zaman.

Diketahui, Jayabaya menjadikan nasihat para pujangga sebagai arah dan tujuan yang dalam bahasa Jawa istilahnya pandam pandom panduming dumudi.

Para pujangga yang menjadi panutan Jayabaya adalah Empu Sedah, Empu Panuluh, dan Empu Darmojo.

“Empu Sedah mengajarkan ilmu sangkan paraning dumadi (Sang Pencipta sebagai tempat kembali),” kata Purwadi.

“Empu Panuluh memberi kawruh joyo kawijayan guno kasantikan (ilmu bertempur yang digdaya). “

“Empu Darmojo memberi wedharan tata praja (perumusan kebijakan),” sambung dosen UNY ini.

Jayabaya juga belajar dari guru agama yang didatangkan oleh kakeknya, Sinuwun Prabu Kamesworo dari Mesir yang bernama Haji Syekh Syamsujen yang datang di tahun 1105.

Banyak pelajaran yang diberikan Haji Syekh Syamsujen yang diberikan kepada Jayabaya.

“Haji Syekh Syamsujen mengajari loro lopo topo broto (tirakat dan menahan hawa nafsu),” tutur Purwadi.

“Sang Prabu biasa topo kungkum (ritual berendam), topo pendhem (tidak membanggakan kebaikan), topo gantung, topo ngrowot (tak makan nasi), topo mutih (puasa mutih).”

“Kadang-kadang juga menjalankan lelaku mirip sato kewan. Yakni topo ngalong (bertapa seperti kelelawar), topo ngidang (menjauhi keramaian), topo ngiwak (tak makan daging).” tambahnya.

Kemudian Purwadi menjelaskan bahwa pada bulan Suro (Muharram) Jayabaya tak lupa lelaku nggenioro mbanyuoro (tidak terbakar nafsu dan tidak mudah terprovokasi).

Selanjutnya pada bulan ruwah (Sya'ban) Jayabaya melakukan topo ngrawe yang berusaha menyenangkan banyak orang.

“Berkat didikan Haji Syekh Syamsujen itu pula, Prabu Jayabaya menjadi raja yang putus ing reh saniskoro (tak punya segala pamrih),” ujar Purwadi.

“Sang Prabu tahu unggah ungguhing boso, kasar alusing roso, jugar genturing topo (keselarasan hidup lahir-batin, jasmani-rohani, dan material-spiritual).”

“Poro kawulo (rakyat) yang tinggal di kutho ngakutho (kota), deso ngadeso (desa), gunung ngagunung (gunung) sangat hormat dan berbakti,” lanjutnya.

Kepribadian Prabu Jayabaya pun terbilang sungguh paripurna. Hal inilah yang menuntunnya memberi ramalan mengenai jenis-jenis zaman (jangka-jangkane jaman).

Menurut Purwadi, ada empat zaman yang terjadi berdasarkan ramalan Jayabaya. Empat zaman itu adalah Kartoyugo, Partoyugo, Kaliyugo, Kalisengsoro.

Dari keempat zaman itu, Zaman Kalisengsoro-lah yang dianggap mencerminkan kondisi saat ini yaitu saat Virus Corona menginfeksi seluru dunia.

“Pada zaman Kalisengoro, banyak sekali berita hoaks berseliweran. Orang berbohong dengan media sosial,” ucap Purwadi.

“Informasi dan teknologi jadi alat tipu-tipu. Handphone, internet, email, radio, televisi digunakan untuk saling serang. Ujung ujungnya banyak korban.”

“Apalagi saat ada bencana dunia. Wabah penyakit menular. Lantas diolah untuk membuat gaduh dan kisruh,” bebernya.

Ketika masyarakat panik, para penipu mengambil keuntungan. Mereka adalah pembohong yang memancing di air keruh.

“Oleh karena itu, Prabu Joyoboyo bersabda dengan bijaksana,” ujar Purwadi.

“Sing bener ketenger, sing salah seleh (Siapa berbuat benar dia akan terbukti, siapa berbuat salah dia akan lengser. Becik ketitik, olo ketoro (yang baik terlihat, yang buruk tampak).

“Sopo kang mbibiti olo, wahyune bakal sirno (yang menanam keburukan, kebahagiannya akan sirna).”

“Inilah ajaran Prabu Joyoboyo. Agar kita selalu eling lan waspodo (ingat dan waspada),” pungkasnya.

(Natalia Bulan)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya