Kisah Cinta Habibie dan Ainun: Mengapa Kamu Begitu Hitam dan Gemuk?

Andika Shaputra, Jurnalis
Rabu 31 Agustus 2022 17:02 WIB
(Foto: Cover buku "Habibie & Ainun")
Share :

Mengenai peristiwa tersebut, kemudian Ainun menulis dalam buku A. Makmur Makka "Setengah Abad Prof. Dr-Ing. B.J.  Habibie Kesan & Kenangan" 1986 (SABJH) sebagai berikut:

Ada satu ucapannya yang tak pernah saya lupakan. He, kenapa sih kamu kok gendut dan hitam? Kami gadis-gadis, semuanya kaget. Eh kok begitu, mau apa dia? Saya dan teman-teman lagi duduk-duduk ngobrol Waktu itu. Tiba-tiba saja ia datang menghampiri dan mengatakannya.

 

Mungkin ada maksudnya. Entahlah. Memang, kita berdua sudah saling tahu-mengetahui sejak dari SMP 5 dan SMP2 kita yang bersebelahan di Bandung itu. Katakanlah saling kenal mata. Keluarga kami berkenalan baik dan saling datang ke rumah, keluarganya di Jalan Imam Bonjol, orang tua saya di Ciumbuleuit.

 

Namun dapat dikatakan bahwa kami baru saling memperhatikan di SMA Kristen di Jalan Dago.

 

Bagaimana tidak. Karena kita dua-duanya sama kecil dan sama-sama paling muda di kelas masing-masing, kita selalu dijodoh-jodohkan oleh para guru “Itu lho yang cocok buat kamu."

 

Dia setahun lehih tua dan selalu satu kelas lebih tinggi. Tetapi kami tidak pernah berpacaran. Malah Fanny, adiknya lebih akrab dengan saya. Fanny kuanggap "konco", dia sendiri teman biasa.

 

la banyak disenangi gadis-gadis yang sedikit lebih tua. Saya ingat ia suka bersepatu roda. Saya sendiri suka berolah-raga: softball, volley, berenang, uga suka makan. Jadi kulit memang agak hitam, badan memang berisi.

 

Bukan dia satu-satunya lelaki yanq menjadi perhatian saya, buat anak gadis umur 16 tahun para mahasiswa yang hebat-hebat dan gagah-gagah memakai sepeda motor Harley Davidson tentu lebih menarik.

 

Dia masih bersepeda waktu itu. Apakah a minta lebih kuperhatikan lebih banyak? Tidak tahulah. Sehabis SMA kami jalan sendiri-sendiri, dia ke Jerman belajar menjadi insinyur, saya ke Jakarta masuk Fakultas Kedokteran UI.

 

Indekos mula-mula pada keluarga Harjono MT di Jalan Borobudur, kemudian pada keluarga Abidin di Jalan Lembanq.

 

Hidup cepat berlalu, tahun 1961 saya lulus, lalu bekerja di bagian Kedokteran Anak FKUI. Saya pindah rumah ke Jalan Kimia agar dekat ke tempat kerja.

 

Tahun 1960 ia selesai. Kata tante Habibie (saat itu belum saya panggil mami) ia baru sakit dua tahun lamanya. Sudah tujuh tahun dia tidak pulang.

 

Kata tante ada baiknya ia pulang berlibur dulu sebelum meneruskan promosinya, siapa tahu ia bertemu jodohnya wanita Indonesia di sini.

(Widi Agustian)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya