FOTO seorang anak menggendong saudaranya yang sudah meninggal di punggungnya setelah ledakan bom atom di Jepang menyisakan misteri yang belum terungkap hingga saat ini. Foto itu diambil oleh jurnalis Joe O’Donnell di Nagasaki pada 1945 untuk militer Amerika Serikat (AS).
Saat itu O’Donnell sedang menyaksikan kremasi ketikan seorang anak berjalan dan berdiri tegak. Di punggung anak itu dia melihat seorang bayi dengan kepala dimiringkan seperti sedang tertidur lelap.
“Saya melihat seorang anak laki-laki berusia sekira sepuluh tahun lewat. Dia menggendong bayi di punggungnya. Pada masa itu di Jepang, kita sering melihat anak-anak bermain dengan adik laki-laki atau perempuan mereka di punggung mereka, tetapi anak laki-laki ini jelas berbeda,” kata O’Donnel dalam sebuah wawancara sebagaimana dilansir dari Rarehistoricalphotos.
“Saya bisa melihat bahwa dia datang ke tempat ini untuk alasan yang serius. Dia tidak memakai sepatu. Wajahnya keras. Kepala kecil itu dimiringkan ke belakang seolah-olah bayi itu tertidur lelap. Anak laki-laki itu berdiri di sana selama lima atau sepuluh menit”.
Dia memperhatikan anak itu sebentar sampai pria bermasker putih berjalan ke arahnya dan mengambil bayi itu. Bayi itu sudah mati.
“Para pria bermasker putih berjalan ke arahnya dan diam-diam mulai melepaskan tali yang menahan bayi itu. Saat itulah saya melihat bayi itu sudah mati. Orang-orang memegang tubuh dengan tangan dan kaki dan meletakkannya di atas api. Anak laki-laki itu berdiri tegak di sana tanpa bergerak, mengamati kobaran api.
BACA JUGA: Cerita Kemerdekaan RI: Mengerikannya Bom Atom "Little Boy" dan "Fat Man" yang Hempaskan Jepang
“Dia menggigit bibir bawahnya begitu keras hingga mengeluarkan darah. Nyala api menyala rendah seperti matahari terbenam. Bocah itu berbalik dan berjalan diam-diam pergi,” kata O’Donnel.
Anak itu dan Joe O'Donnell menyaksikan bayi itu dilemparkan ke dalam api, terbakar sampai yang bisa mereka lihat hanyalah abu.
Militer AS mengirim O’Donnell ke Nagasaki untuk mendokumentasikan kerusakan yang ditimbulkan di Jepang yang disebabkan oleh serangan udara dari bom api dan bom atom.
Selama tujuh bulan berikutnya mulai September 1945, ia melakukan perjalanan melintasi Jepang Barat mencatat kehancuran, mengungkapkan penderitaan para korban bom termasuk yang tewas, yang terluka, tunawisma, dan yatim piatu. Foto-foto penderitaan para korban itu masih terus teringat olehnya.
Foto itu dirilis ke publik pada 1989. Salah satu penyintas serangan bom atom Nagasaki mengenali anak laki-laki di foto itu tetapi tidak tahu namanya. Nama penyintas itu adalah penulis Masanori Muraoka.
Masanori Muraoka. (Foto: Mainichi)
Muraoka mengatakan bahwa dia pertama kali bertemu dengan anak laki-laki di foto di Sekolah Dasar Nasional Zenza, yang sekarang dikenal sebagai Sekolah Dasar Zenza dan mereka bermain bersama dalam beberapa kesempatan.
Muraoka baru berusia 11 tahun ketika bom dijatuhkan di Nagasaki. Dia mengatakan dia bertemu bocah itu setelah serangan di gunung di belakang rumahnya dan melihat dia menggendong bayi berusia satu tahun di punggungnya.
Anak laki-laki itu berkata, "Ibuku tidak ada di sini," dan Muraoka menjawab, "mungkin dia mencarimu." Muraoka kemudian melihat anak laki-laki itu berjalan menjauh darinya, turun dari gunung. Itulah terakhir kali dia melihat anak itu.
Pada Januari 2018, Mainichi Shimbun menerbitkan sebuah artikel tentang upaya untuk menemukan anak laki-laki dalam foto itu oleh Yoshitoshi Fukahori, (90), kepala Komite Penelitian untuk Catatan Fotografi Bom Atom Nagasaki di Yayasan Nagasaki untuk Promosi Perdamaian.
Namun, pada akhirnya Fukahori tidak bisa memastikan di mana foto itu diambil, atau identitas bocah itu. Muraoka membaca artikel itu dan berpikir bahwa itu mungkin anak laki-laki yang ditemuinya, dan memutuskan untuk mencoba memecahkan misteri itu sendiri.
Dia memulai penyelidikannya dengan mengandalkan ingatannya dan buku-buku yang ditulis tentang anak itu. Catatan murid Sekolah Dasar Nasional Zenza hilang karena kebakaran, dan meskipun Muraoka berkonsultasi dengan catatan kontemporer dari sekolah di luar kota Nagasaki, itu tidak memberikan hasil apa pun.
Muraoka juga bertemu dengan seseorang yang memberitahunya bahwa mereka tahu nama anak itu, tetapi tidak ada informasi yang mengarah pada petunjuk yang pasti.
Sementara itu, O’Donnell meninggal dunia di Tennessee, AS pada 9 Agustus 2007, bertepatan dengan peringatan 62 tahun dijatuhkannya bom atom di Nagasaki.
Hingga saat ini identitas "Anak laki-laki yang berdiri di dekat krematorium" itu masih menjadi misteri.
(Rahman Asmardika)