JAKARTA –Pemberontakan PKI pada 1948 atau dikenal sebagai peristiwa Madiun pada 18 Agustus 1948 merupakan pemberontakan kelompok komunis PKI yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR).
(Baca juga: Peristiwa Madiun: Saat Jasad Musso Dibakar, Abunya Berserakan di Alun-Alun)
Dalam pemberontakan itu, mereka yang menjadi korban kekejaman PKI adalah tokoh ulama maupun santri. Korban dibunuh secara keji, dicambuk, disayat dengan pisau.
Pemberontakan ini diawali dengan jatuhnya Amir Sjarifuddin sebagai kabinet setelah Perjanjian Renvile. Kemudian lahirlah kabinet baru dengan di komandoi oleh Mohammad Hatta sebagai perdana menteri namun tidak disetujui Amir.
Saat itu, PKI juga memproklamasikan Republik Soviet Indonesia dan mengangkat Musso sebagai presiden serta Amir Sjarifuddin sebagai perdana menteri.
Pemberontakan Madiun berhasil ditumpas oleh pasukan gabungan TNI dari Divisi III Siliwangi, Divisi II pimpinan Kolonel Gatot Soebroto, Divisi I yang dikomandoi Kolonel Soengkono serta Mobil Brigade (Brigade Mobil kini Brimob).
Selama 12 hari setelah Kota Madiun dikuasai PKI/FDR, pasukan gabungan berhasil mengamankan wilayah tersebut. Sedangkan Amir Sjarifoeddin sendiri berhasil tertangkap dan dieksekusi. Nasib serupa juga dialami oleh Musso.
Melansir buku karya Soe Hok Gie, ‘Orang-Orang di Persipangan Kiri Jalan’, Musso terlihat pada 31 Oktober 1948 di Desa Balong. Dia menyamar seperti rakyat biasa.
Namun petugas sempat curiga dan memberhentikan Musso untuk dimintai surat-surat keterangan. Ketika barang bawaannya diperiksa, Musso merampas pistol seorang penjaga untuk menembak si pemeriksa, kemudian kabur dengan dokar yang dirampasnya dari seorang rakyat sekitar.
Pasukan TNI yang melihat, langsung mengejar Musso yang di tengah jalan, berhasil menodong sebuah mobil dari pasukan Batalyon Sunandar. Nahas, mobilnya sempat sulit dinyalakan dan prajurit yang sebelumnya ditodong, balik menodong Musso.
“Engkau tahu siapa saya? Saya Musso. Engkau baru kemarin jadi prajurit dan berani minta saya menyerah? Lebih baik saya mati dari pada menyerah. Walau pun bagaimana, saya tetap merah putih,” tegas Musso.
Musso lalu kembali berhasil lari ke sebuah desa bernama Semanding, Kecamatan Sumoroto, Ponorogo, Jawa Timur. Dia sempat lari ke sebuah kamar mandi milik seorang warga sekitar.
Pasukan TNI yang sudah mengetahui tempat persembunyiannya Musso, langsung memberondong kamar mandi itu. Musso pun tumbang, namun belum tewas. Tubuh Musso dibawa dengan menggunakan drag bar atau tangga bamboo dan dibakar.
(Fahmi Firdaus )