Cegah Stunting, Remaja Diimbau Jalani Pola Hidup Sehat dan Hindari Pernikahan Dini

Fitria Dwi Astuti , Jurnalis
Jum'at 16 September 2022 13:45 WIB
Foto: Dok Kementerian Komunikasi dan Informatika
Share :

BINTAN – Pencegahan stunting harus sudah dimulai sejak remaja. Remaja diimbau menjalani pola hidup sehat dan menghindari pernikahan dini agar saat mereka menjadi orang tua akan melahirkan generasi sehat bebas stunting.

Demikian disampaikan Koordinator Informasi Komunikasi Kesehatan Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (IKPMK) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Marroli J. Indarto dalam Diseminasi Informasi dan Edukasi Percepatan Penurunan Stunting bertajuk Kepoin GenBest: Remaja Sadar Gizi, Cegah Stunting Sejak Dini di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Kamis (15/9/2022).

Dikatakan Marroli, anak stunting secara fisik akan terlihat lebih pendek, memiliki daya intelektual dan nalar yang rendah sehingga sulit bersaing. Untuk itu perlu dilakukan tindakan-tindakan preventif, selain menjaga pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan bergizi juga dengan mencegah pernikahan dini. “Di Indonesia pernikahan dini masih tinggi, hal ini menjadi concern pemerintah agar pernikahan dini dapat ditekan,” ucapnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah pernikahan dini atau pernikahan anak pada tahun 2020 berada di angka 10,18 persen. Angka ini masih di atas target Strategi Nasional Pencegahan Perkawinan Anak (Stranas PPA) yaitu 8,74 persen di akhir 2024.

Lebih lanjut Marroli menjelaskan, angka prevalensi stunting di Indonesia terus membaik dari tahun ke tahun. Berbagai intervensi spesifik maupun sensitif yang dilakukan pemerintah berhasil menurunkan angka prevalensi stunting secara konsisten. “Kita masih punya waktu dua tahun sampai 2024 dan kami optimis mudah-mudahan angka stunting bisa tembus di angka 14 persen. Di bawah standar dunia sekitar 20 persen,” ujarnya.

Senada dengan Marroli, dr. Mario Johan, yang menjadi narasumber dalam acara tersebut, mengungkapkan bahwa stunting tidak hanya pendek secara fisik, tetapi ada beberapa masalah lain. Pertama, tingkat kecerdasan atau IQ rendah dibanding anak seusianya. Kedua, lebih lemah dan mudah sakit. Ketiga, saat dewasa mudah terkena penyakit kronis seperti darah tinggi, kencing manis, ataupun jantung.

“Bisa dibilang anak stunting menjadi generasi yang tidak berkualitas. Stunting tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan anak seperti tinggi atau berat badan, tetapi juga perkembangannya,” ucap Mario.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya