Selain itu, menurut Mario stunting, gizi, serta pernikahan dini memiliki hubungan yang erat. Stunting terjadi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan, yaitu sejak bayi dikandung hingga berusia 2 tahun. Hal ini berarti pemenuhan gizi sejak bayi di dalam kandungan sudah mempengaruhi anak akan terlahir stunting atau tidak. Lebih jauh, jika sebelum kehamilan kondisi calon ibu rendah pemenuhan gizinya dan anemia, menambah kemungkinan anak yang akan terlahir stunting.
“Itulah mengapa edukasi stunting penting untuk remaja. Mereka adalah cikal bakal yang akan melahirkan generasi-generasi emas nantinya. Oleh karena itu, kalau kita ingin Indonesia maju, kita harus tekan angka stunting,” kata Mario.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau, Moh. Bisri, menjelaskan stunting terkait erat dengan gaya hidup sehat. Dijelaskan Bisri, sebagaimana lingkaran kehidupan, jika diibaratkan seperti tanaman, mulai dari bibit dan media tumbuhnya harus bagus, perawatannya baik, serta dijaga dari hama penyakit. Kemudian menjelang pembungaan juga harus ada perawatan ekstra hingga berbuah juga harus dijaga.
“Manusia kurang lebih sama. Makanya remaja harus mempersiapkan diri dengan pengetahuan dan harus dipraktikan. Mulai dari hidup yang sehat,” tutur Bisri.
Forum Kepoin GenBest yang diadakan di Kabupaten Bintan merupakan bagian dari kampanye GenBest (Generasi Bersih dan Sehat), yang merupakan inisiasi Kemenkominfo untuk menciptakan generasi Indonesia yang bersih dan sehat serta bebas stunting. GenBest mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat di kehidupan sehari-hari. Melalui situs genbest.id dan media sosial @genbestid, GenBest juga menyediakan berbagai informasi seputar stunting, kesehatan, nutrisi, tumbuh kembang anak, sanitasi, siap nikah, maupun reproduksi remaja dalam bentuk artikel, infografik, serta videografik.
(Fitria Dwi Astuti )