Meskipun ia memiliki rumah yang berupa sebuah bangunan keraton megah dan ayahnya sebagai Raja dapat memberikan apapun kepadanya, pada kenyataannya ia tak menganggap semua itu hal yang istimewa. Ia bersekolah, bermain, menempuh ujian, bersepeda ke mana-mana sebagai siswa Sekolah Dasar secara biasa sebagaimana murid-murid yang lain.
“Pada waktu itu saya pernah sekelas dengan Hamid, kemudian dikenal dengan nama Sultan Hamid II. Ketika kecil sebutannya adalah Mozes. Ia tinggal di Yogya, hanya ditemani seorang pengasuh berkebangsaan Inggris bernama Nyonya Fox. Kebiasaan berkelahi tak begitu disukainya,” ucap Sri Sultan Hamengku Buwono IX dilansir dari buku Takhta Untuk Rakyat.
Memang di antara kedua orang siswa Europese Lagere School Yogya pada tahun dua puluhan itu ada persamaan, yaitu bahwa keduanya putra Sultan. Tetapi, untuk selanjutnya, pertumbuhan dan jalan hidup mereka mengambil arah yang berlainan, dan pada suatu waktu menduduki posisi yang amat berlawanan.
Di satu pihak Henkie, yang kemudian menjadi Hamengku Buwono IX, menjadi pejuang kemerdekaan RI. Di lain pihak Mozes, yang kemudian menjadi Sultan Hamid II, diangkat menjadi ajudan Ratu Wilhelmina yang tentu saja selalu berpihak ke pada Belanda.
(Khafid Mardiyansyah)