TEHERAN - Nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menghentikan konflik di Teluk berpotensi disepakati dan ditandatangani paling cepat pada Minggu, 14 Juni di Jenewa, Swiss, demikian menurut sumber Barat yang dikutip Reuters. Kabar yang tampaknya positif ini muncul di saat para negosiator berupaya menyelesaikan rumusan tentang pencabutan sanksi, syarat gencatan senjata regional, dan pengaturan pasca-konflik.
Namun, media Iran, Noornews, mengutip sumber yang mengetahui informasi tersebut yang mengatakan bahwa nota kesepahaman belum diselesaikan di Iran, dan membantah adanya penandatanganan di Jenewa pada Minggu.
Dilaporkan Reuters, draf tersebut, yang masih disempurnakan, berpusat pada penghentian pertempuran di berbagai medan perang, dengan Iran bersikeras bahwa setiap kesepakatan juga harus mencakup Lebanon, di mana Israel terlibat dalam operasi militer melawan Hizbullah.
Negosiator berusaha menyelesaikan penyusunan kata-kata pada Sabtu, 13 Juni, untuk membuka jalan bagi penandatanganan oleh Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammed Baqer Qalibaf. Sejauh ini tempat penandatanganan di Jenewa masih belum dikonfirmasi.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan itu pada dasarnya sudah siap dan mengaitkannya dengan penghentian aksi militer baru.
"Kita baru saja mencapai kesepakatan besar dalam perang dengan Iran," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, sebagaimana dilansir Reuters.
Ia selanjutnya menyarankan implementasi dapat dilakukan dengan cepat, dengan mengatakan, “Selat akan resmi dibuka segera setelah kita menandatangani, yang bisa segera, sangat segera, mungkin pada akhir pekan di Eropa,” merujuk pada Selat Hormuz yang strategis. Trump juga mengindikasikan dukungan tingkat kepemimpinan untuk rancangan tersebut, menambahkan, “Saya mengerti jawabannya adalah ya,” ketika ditanya apakah otoritas tertinggi Iran telah menyetujuinya.