Cara kerja Tobong Gamping cukup sederhana, yaitu memasukkan batu ke dalam tungku, lalu dibakar sesuai kebutuhan. Nama Tobong mengacu pada bentuk bangunannya yang berupa menara.
Meski sederhana, proses pembakaran bisa memakan waktu 24 jam dalam sepekan untuk 15 ton batu putih, yang menjadi batu kapur. Selain sebagai bahan bangunan, batu kapurnya digunakan untuk menetralkan limbah tambak udang.
"Ya rata-rata segitu. Mau nambah sekarang susah pekerjanya,"terang dia.
Namun sekitar 3 dekade setelahnya, masa kejayaan itu meredup dan usaha Tobong Gamping kian ditinggalkan. Menurut Satimin, redupnya kejayaan Tobong Gamping tak terlepas dari turunnya permintaan batu kapur untuk bahan bangunan. Tak tanggung-tanggung, penurunannya mencapai 70 persen lebih.
Kini permintaan masih tetap ada, namun tidak sebanyak dulu. Semarang, Pemalang, Tegal hingga Jakarta masih jadi tujuan pengiriman batu kapur hasil olahan Tobong Gamping. Ke Semarang dalam sebulan bisa sampai 70 ton batu kapur, per kilonya dihargai Rp 1.000,00.
"Sekarang untuk tambak udang, peternakan ayam dan industri pupuk organik,"ungkapnya.
Menurut Satimin, idealnya pengerjaan Tobong Gamping membutuhkan sekitar 30 orang dalam sehari. Namun saat ini, hanya ada 7 orang yang bekerja per hari, dengan usia tak lagi muda. pasalnya bekerja di Tobong Gamping cukup menguras tenaga.
Selain masalah tenaga, bahan batu putih pun kini kian sulit didapatkan dan harganya sudah mahal. Adapun bahannya kini didapat dari Gari sendiri dan Kapanewon Semanu.