JAKARTA – Presiden Soekarno diasingkan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada 1938 karena kegiatan politik anti-kolonial. Bung Karno tertangkap lalu diasingkan ke Bengkulu dan menempati salah satu rumah keturunan China Bernama Tan Eng Cian.
Awalnya Soekarno dijebloskan ke penjara Banceuy, namun setelah dinyatakan bersalah karena tindakannya meresahkan pihak Belanda, dia dipindahkan ke penjara Sukamiskin di Bandung. Belanda tetap masih merasa Bung Karno berbahaya sehingga saat bebas pada tanggal 31 Desember 1931, ia diasingkan ke daerah yang susah dijangkau.
Soekarno pernah diasingkan ke Ende, Nusa Tenggara Timur. Namun saat di sana ia terkena wabah malaria dan para tokoh Batavia, salah satunya Mohammad Husni Thamrin melayangkan protes kepada pemerintah Belanda. Lalu Soekarno dipindahkan ke Bengkulu.
Saat di Bengkulu Soekarno tinggal bersama Tang Eng Cian yang merupakan penyuplai bahan pokok untuk kebutuhan pemerintah kolonial Belanda. Rumah tersebut terletak di jantung Kota Bengkulu, persisnya di Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Gading Cempaka.
Kabar datangnya soekarno sampai kepada Hasan Din sebagai pengurus organisasi Muhammadiyah. Hasan Din memiliki maksud untuk mengajak Soekarno mengajar di sekolah Muhammadiyah setempat.
"Di sini Muhammadiyah menyelenggarakan sekolah rendah agama dan kami sedang kekurangan guru. Selama di Ende kami tahu Bung Karno telah kerap melakukan komunikasi dengan Persatuan Islam di Bandung dan kami mendengar Bung Karno sefaham dengan Ahmad Hassan, guru yang cerdas itu. Apakah Bung bersedia membantu kami sebagai guru?" ucap Hasan Din dikutip dari buku ‘Soekarno Fatmawati Sebuah Kisah Klasik’.
Baca juga: 9 Inti Pidato Nawakarsa Presiden Soekarno, Demokrasi Terpimpin Salah Satunya
"'Saya menganggap permintaan ini sebagai rahmat," jawab Soekarno.
Namun, saat mengajar Soekarno diminta untuk tidak membicarakan permasalahan politik.
"Ah, tidak. Saya akan menyinggung tentang Nabi Besar Muhammad yang selalu mengajarkan kecintaan terhadap Tanah Air," ujar Soekarno.
Soekarno memenuhi janji untuk mengajar di sekolah tersebut. Lalu ia bertemu dengan salah satu murid yang berna Fatmawati, putri Hasan Din. Fatmawati dilihatnya sebagai gadis yang memiliki rambut seperti sutera di belah tengah dan menjurai ke belakang berjalin dua.
Soekarno sendiri punya anak angkat bernama Ratna Djuami yang setahun lebih tua dari Fatmawati. Ketika Ratna memasuki sekolah tinggi di Bengkulu, Fatmawati mengikutinya dan Soekarno mengizinkan ia pula untuk tinggal di rumahnya.