“Saya pergi ke Los Angeles dan mulai mencari tahu apa yang sedang dikerjakan jaksa wilayah. Dengan sangat cepat saya menyadari kisahnya jauh lebih besar dan lebih rumit dari perkiraan saya sebelumnya.
“Saya juga menyadari kehidupannya kurang diliput secara memadai oleh pers, kecuali dua atau tiga biografi. Banyak yang harus dipelajari,” kenangnya.
Summers kemudian membeli sebuah mobil, berkunjung ke berbagai rumah, dan menelpon banyak orang.
Dari cara orang-orang menghindar atau bahkan terang-terangan menolak diwawancarai menunjukkannya bahwa meski sudah 20 tahun berlalu, perkara kematian Marilyn Monroe masih penuh dengan kecurigaan dan ketakutan banyak orang.
Namun, Summers tetap gigih.
Sang wartawan kemudian berhasil mewawancarai lebih dari 700 orang. Beberapa di antara mereka hanya sedikit mengetahui hari-hari atau jam-jam terakhir sebelum sang artis meninggal dunia.
Sebut saja pengurus rumahnya, Eunice Murray, atau keluarga Dr. Ralph Greenson, psikiater terakhirnya.
Dari rangkaian wawancara dan kerja jurnalistiknya, Summers menerbitkan buku pada 1985 berjudul Goddess: The Secret Lives of Marilyn Monroe.
Buku tersebut telah diperbarui beberapa kali dan menjadi landasan film dokumenter Netflix yang dirilis baru-baru ini, The Mystery of Marilyn Monroe: The Unheard Tapes.
“Saya tidak menemukan apapun yang meyakinkan saya bahwa dia dibunuh, tapi saya menemukan bukti bahwa kondisi seputar kematiannya sengaja ditutupi,” papar Summers.
“Dan saya bisa katakan bukti-bukti mengindikasikan bahwa itu karena sang artis punya koneksi dengan Kennedy bersaudara.”
(Nanda Aria)