Komentar Elon Musk Tentang China-Taiwan Bikin Riuh, Tuai Pujian Beijing dan Kritikan Taipei

Susi Susanti, Jurnalis
Senin 10 Oktober 2022 11:42 WIB
Bos Tesla Elon Musk angkat bicara soal konflik China-Taiwan (Foto: Reuters)
Share :

CHINA - Beijing dan Taipei angkat bicara setelah bos Tesla Elon Musk mememberikan komentar terkait konflik China-Taiwan. Dia mengatakan Taiwan harus menjadi zona administrasi khusus China.

Orang terkaya di dunia itu mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Financial Times bahwa dia yakin kedua pemerintah dapat mencapai kesepakatan yang "cukup baik".

Dia mempertimbangkan ketegangan China-Taiwan yang meningkat dalam wawancara luas dengan surat kabar bisnis Inggris Financial Times, yang diterbitkan pada Jumat (7/10/2022).

"Rekomendasi saya adalah mencari zona administratif khusus untuk Taiwan yang cukup enak, mungkin tidak akan membuat semua orang senang," katanya.

Baca juga: Lewati 'Garis Tengah', Menhan Taiwan: China 'Menghancurkan' Perjanjian Diam-Diam di Selat Taiwan

"Dan itu mungkin, dan saya pikir mungkin, pada kenyataannya, bahwa mereka dapat memiliki pengaturan yang lebih lunak daripada Hong Kong,” lanjutnya.

Baca juga: Konflik China-Taiwan, Menhan AS Yakin Presiden Xi Jinping Mencoba Ciptakan Normal Baru

Komentar Musk muncul saat pembuat mobil listrik itu mencapai rekor penjualan bulanan di China.

Menurut sebuah laporan yang dirilis Asosiasi Mobil Penumpang China pada Minggu (9/10/2022), Tesla mengirimkan 83.135 kendaraan listrik buatan China pada September lalu.

Angka itu memecahkan rekor sebelumnya yang dibuat oleh perusahaan pada Juni lalu dan menandai tonggak sejarah bagi pabrik Tesla di Shanghai yang telah berusaha untuk meningkatkan produksi.

Pekan lalu, Musk juga mendapat kritik karena memposting jajak pendapat Twitter dengan sarannya untuk mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina, termasuk Kyiv menyerahkan wilayah ke Moskow.

Merespons hal ini, Duta Besar China untuk Amerika Serikat (AS) Qin Gang memuji Musk tetapi rekannya dari Taiwan mengatakan kebebasan "tidak untuk dijual".

Diketahui, Taiwan memerintah sendiri tetapi Beijing mengklaimnya sebagai bagian dari wilayahnya.

Pada Sabtu (8/10/2022), Gang menyambut saran Musk untuk menetapkan Taiwan sebagai zona administrasi khusus.

Dia mengatakan di Twitter bahwa "penyatuan kembali secara damai" dan model "satu negara dua sistem" yang digunakan dalam pemerintahan Hong Kong adalah "prinsip dasar China untuk menyelesaikan pertanyaan Taiwan".

“Dengan syarat kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunan China dijamin, setelah reunifikasi Taiwan akan menikmati otonomi tingkat tinggi sebagai wilayah administrasi khusus, dan ruang yang luas untuk pembangunan,” ujarnya.

Sebagai tanggapan, Hsiao Bi-khim, Duta Besar de facto Taiwan untuk Washington angkat bicara di Twitter.

"Taiwan menjual banyak produk, tetapi kebebasan dan demokrasi kami tidak untuk dijual,” cuitnya.

"Setiap proposal abadi untuk masa depan kita harus ditentukan secara damai, bebas dari paksaan, dan menghormati keinginan demokratis rakyat Taiwan," tambahnya.

Sementara itu, Shihoko Goto, Direktur geoekonomi dan perusahaan Indo-Pasifik di Wilson Center di Washington DC, mengatakan kepada BBC bahwa saran Musk dapat merugikan kepentingan bisnisnya.

"Mari kita ingat bahwa Elon Musk seharusnya berada di ambang pembelian Twitter. Tentu saja, Twitter dilarang di China karena kebebasan berbicara tidak diperbolehkan di China," terangnya.

"Jadi jika dia berinvestasi di Twitter, perusahaannya mungkin tidak akan dapat beroperasi di Taiwan yang akan berada di bawah tekanan atau di bawah jempol China. Itu akan menjadi tindakan bunuh diri dari pihak Elon Musk," ungkapnya.

China melihat Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri sebagai provinsi yang memisahkan diri yang pada akhirnya akan berada di bawah kendali Beijing.

(Susi Susanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya