Sebagai tanggapan, Hsiao Bi-khim, Duta Besar de facto Taiwan untuk Washington angkat bicara di Twitter.
"Taiwan menjual banyak produk, tetapi kebebasan dan demokrasi kami tidak untuk dijual,” cuitnya.
"Setiap proposal abadi untuk masa depan kita harus ditentukan secara damai, bebas dari paksaan, dan menghormati keinginan demokratis rakyat Taiwan," tambahnya.
Sementara itu, Shihoko Goto, Direktur geoekonomi dan perusahaan Indo-Pasifik di Wilson Center di Washington DC, mengatakan kepada BBC bahwa saran Musk dapat merugikan kepentingan bisnisnya.
"Mari kita ingat bahwa Elon Musk seharusnya berada di ambang pembelian Twitter. Tentu saja, Twitter dilarang di China karena kebebasan berbicara tidak diperbolehkan di China," terangnya.
"Jadi jika dia berinvestasi di Twitter, perusahaannya mungkin tidak akan dapat beroperasi di Taiwan yang akan berada di bawah tekanan atau di bawah jempol China. Itu akan menjadi tindakan bunuh diri dari pihak Elon Musk," ungkapnya.
China melihat Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri sebagai provinsi yang memisahkan diri yang pada akhirnya akan berada di bawah kendali Beijing.
(Susi Susanti)