Depok Diguyur Hujan Es, Ini Penjelasan BMKG

Erfan Maaruf, Jurnalis
Senin 10 Oktober 2022 04:56 WIB
Kepala BMKG Dwikorita (Foto: Dok Okezone)
Share :

JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena hujan es yang terjadi di kawasan Sawangan dan Bojongsari, Depok, Jawa Barat, pada Minggu 9 Oktober 2022 kemarin.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa dalam istilah meteorologi, hujan es disebut juga dengan hail. Di mana hujan es tersebut terjadi dalam bentuk tidak beraturan.

Dia menjelaskan fenomena hujan es terjadi saat partikel es atau butir air hujan yang membeku, mengalami perkembangan dengan menyerap butir-butir awan yang teramat dingin pada awan c menjual mumulonimbus.

"Butiran tersebut melewati ketinggian level beku dengan suhu di bawah 0 derajat Celcius atau di ketinggian sekira 16.000 kaki atau sekitar 5000 mdpl," kata Dwikorita saat dihubungi MNC Portal (10/10/2023).

Hujan es tersebut terjadi akibat terbentuknya awan kumulonimbus yang menjulang tinggi ke angkasa hingga ketinggian lebih dari 5000 - 9.000 meter. Suhu di bagian puncak awan tersebut bisa mencapai -60 Derajat Celcius atau lebih dingin lagi, sehingga uap air akan membentuk kristal-kristal es.

Baca juga: Hujan Es hingga Pohon Tumbang, Kemacetan Parah Kepung Depok

Baca juga: Awal Pekan, DKI Jakarta Akan Diguyur Hujan pada Siang Hari

"Terjadinya hujan Es di Sawangan dan Bojongsari disebabkan besarnya diameter Es yang terbentuk pada ketinggian 5000 mdpl atau kurang, hujan es ini dihasilkan oleh awan kumulonimbus dan hanya terjadi dalam waktu singkat, yaitu kurang dari 1 jam, di mana butiran ini sampai ke permukaan bumi masih menyisakan butiran es dengan diameter 5-50 mm," jelasnya.

Ukuran es yang jatuh bisa 5 sampai 50 milimeter. Hujan es tersebut berpotensi membahayakan dan merusak jika terjadi dalam skala besar, contohnya menyebabkan kerusakan pada atap rumah.

"Berdasarkan analisis citra radar menggunakan produk CMAX (Coloumn Maximum) dan CAPPI (Constant Altitude Plan Position Indicator) menunjukan pertumbuhan awan dengan nilai reflektifitas hingga >60 dBz, serta berdasarkan analisa satelit Himawari-8 menunjukan adanya awan dengan suhu puncak kurang dari -70 ᵒC," pungkasnya.

(Fakhrizal Fakhri )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya