Saat hendak membantu para korban, ia melihat di luar ruang dan di lorong VVIP kondisi begitu crowded. Sesak dan penuh banyak orang.
Asap gas air mata yang pekat ditembakkan dari moncong senjata aparat kepolisian, membuat perih menusuk mata. Suasana pun semakin panik.
Avirista kemudian mengusapkan pasta gigi atau odol di sekitar bawah matanya untuk menghilangkan rasa perih, namun tak juga hilang.
Karena kondisi semakin tidak kondusif. Akhirnya Avirista memutuskan untuk tidak menulis berita dan menolong semampunya serta memberikan napas buatan kepada Aremania yang terkulai lemah, tetapi suporter fanatik itu tidak tertolong.
"Saya membantu dan membawa (Aremania) dengan teman-teman yang lain, ada sekitar 5 orang yang sudah kondisinya kritis," ujarnya.
Terlebih, suasana semakin mencekam karena tidak adanya bala bantuan seperti ambulans di dalam stadion. Bahkan, tabung oksigen tidak disediakan panitia pelaksana (panpel).