Reformasi kultural di Polri merupakan hal fundamental yang dapat menjadi jawaban maupun solusi untuk kembali merebut kepercayaan publik terhadap Kepolisian. Tapi, tentunya proses akan menghadapi dinamika tersendiri. Jika semua rangkaian peristiwa menjadi gong perubahan di Polri, kedepannya polisi akan semakin sigap dan dewasa dalam menghadapi tantangan di tingkat nasional maupun internasional.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah menyadari pentingnya segera melakukan reformasi kultural di internal Korps Bhayangkara. Terakhir, Sigit menyerukan hal tersebut ke ribuan lulusan perwira Polri.
"Oleh sebab itu, guna meningkatkan kepercayaan publik rekan-rekan harus menjadi agen penggerak reformasi kultural Polri. Saya memahami, bahwa untuk melakukan hal tersebut tidaklah mudah, namun harus kita lakukan demi kebaikan institusi Polri yang kita cintai," kata Sigit dalam amanatnya di upacara penutupan pendidikan dan pelatihan Perwira Polri Sekolah Inspektur Polisi (SIP) Angkatan ke-51, Resimen Satya Intar Adinata Pratapa, di Sukabumi, Jawa Barat, Senin, 3 Oktober 2022.
Reformasi kultural menjadi 'obat' rasa keadilan bagi masyarakat. Dan pil pait itu menjadi kesehatan bagi 450 ribu personel kepolisian lebih di Indonesia. Konsep Presisi, Prediktif, Responsibilitas dan Transparansi Keadilan yang digaungkan sejak awal Jenderal Sigit terpilih jadi Kapolri akan semakin mantap apabila segera terwujudnya perubahan secara drastis untuk perbaikan di seluruh lini.
"Percayalah dengan kasus ini Polri akan semakin lebih baik dan semakin dipercaya masyarakat," ucap Edi.
Lantas, mengapa kepercayaan publik menjadi target utama yang harus kembali direbut oleh Polri. Karena, hanya dengan hal upaya pemolisian akan lebih maksimal dan efektifitas dalam rangka menjalankan tugasnya.
Tantangan yang dihadapi Polri kedepannya diprediksi semakin kompleks baik ancaman dari dalam negeri maupun luar negeri. Jika simpati masyarakat tak bisa direbut, maka akan muncul stigma selalu kurang penanganan yang dilakukan oleh kepolisian.
Mengamankan Pemilu, mencegah polarisasi, black campaign, mengawal seluruh agenda pemerintah, cyber crime, kejahatan transnasional, antisipasi ketidakpastian global yang lahir akibat konflik kepanjangan Negara Rusia dan Ukraina, deretan itu hanyalah sedikit tugas yang akan dihadapi oleh Polri dewasa ini.
"Ini momentum yang bagus agar Polri bisa semakin baik lagi kedepannya," ujar Edi.
Polri tak berdiri di ruang hampa. Harus ada perubahan mendasar dan besar untuk kemajuan organisasi. Pun hal itu harus diilhami oleh seluruh prajurit, baik level pimpinan hingga bawahan.
"Saya pikir Polri perlu segera berbenah dalam hal mindset. Polisi bukanlah pekerjaan yang lebih powerfull dari yang lain. Polisi adalah pelayan masyarakat," sebut Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, Jumat 7 Oktober 2022.