Konon Mahapati-lah yang memfitnah Nambi saat ia pulang kampung ke Lamajang, untuk menjenguk ayahnya Arya Wiraraja yang sakit keras hingga meninggal dunia. Mahapati yang datang melayat ke rumah Nambi menyampaikan rasa duka citanya. Ia juga menyarankan Nambi yang saat itu cuti untuk memperpanjang cutinya.
Nambi pun setuju atas usul Mahapati. Mahapati lalu kembali ke ibu kota Majapahit dan menyampaikan permohonan izinnya ke Jayanagara, sang raja. Tetapi di hadapan raja, Mahapati justru menyampaikan berita bohong bahwa Nambi menolak untuk kembali ke ibu kota karena sedang mempersiapkan pemberontakan. Jayanagara yang termakan hasutan, langsung mengirim pasukan dipimpin Mahapati untuk menumpas Nambi.
Nambi yang tidak menduga datangnya serangan mendadak membangun benteng pertahanan di Gending dan Pejarakan. Tetapi benteng pertahanan itu dapat dihancurkan oleh Majapahit. Akhirnya Nambi sekeluarga tewas pula dalam peperangan itu. Kitab Pararaton mengisahkan Nambi mati dalam benteng pertahanannya di Desa Rabut Buhayabang, karena dikeroyok oleh Jabung Tarewes, Lembu Peteng, dan Ikal - Ikalan Bang.
(Erha Aprili Ramadhoni)