La Galigo dan Kisah Gender Kelima yang Disucikan dalam Masyarakat Bugis

Tim Okezone, Jurnalis
Jum'at 28 Oktober 2022 05:00 WIB
Serat La Galigo/ Doc: Lontara Project
Share :

"Tentunya dengan bahasa yang lebih menarik untuk generasi muda dan disertai 1001 visualisasi untuk memudahkan pembaca," kata Maharani.

Ap isi La Galigo?

Profesor Nurhayati Rahman, pakar filologi Universitas Hasanuddin, Makassar, yang telah mendedikasikan lebih dari 30 tahun masa hidupnya untuk mempelajari La Galigo, mengamini keunikan karya sastra itu.

Ia menjelaskan karya yang diperkirakan sudah ada sejak abad-14 itu, awalnya diceritakan secara tutur, kemudian ditulis di lembaran-lembaran daun lontar.

Karya itu, katanya, menggambarkan sifat perantau dan karakter khas orang Bugis "dengan segala kelebihan dan kekurangannya".

Cara pengisahannya unik dan layaknya sastra modern, karena memuat kisah balik (flashback) hingga hal yang akan terjadi di masa depan (flash-forward).

Nurhayati mengatakan naskah itu tak ditulis satu orang tunggal, tapi ditulis secara berkelanjutan dari satu generasi ke generasi yang lainnya.

Kesetaraan gender hingga demokrasi

Dikisahkan, Sawérigading, tokoh utama dalam La Galigo, bertemu, bercinta, dan bertunangan dengan putri Senrima Wéro dari kerajaan langit (Boting Langiq).

Namun, pernikahan mereka terhalang perbedaan keinginan di antara keduanya.

Sawérigading ingin membawa tunangannya itu ke dunia manusia, tapi Senrima Wéro berkukuh tinggal di langit.

Perkawinan pun akhirnya batal. Namun, keduanya berjanji untuk tetap berhubungan baik seperti layaknya saudara.

Cerita ini menunjukkan perempuan bukan sosok inferior dalam budaya Bugis Kuno. Mereka digambarkan memiliki prinsip dan tegas dalam mengambil keputusan.

"Hubungan antara laki-laki dan perempuan berlangsung setara, tanpa ada dominasi antara satu dan lainnya," ujar Nurhayati.

Louie Buana menambahkan tentang cerita kepemimpinan perempuan dalam La Galigo.

"Tokoh adik kembarnya Sawérigading, We Tenri Abeng, itu adalah ratu yang punya sifat-sifat kepempimpinan. Jadi, kepemimpinan itu tidak ekslusif untuk laki-laki.

"Ketika dia dipaksa menikah, dia juga bisa menolak. Untuk ukuran saat itu ini kan tergolong langka ya," kata Louie.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya