La Galigo dan Kisah Gender Kelima yang Disucikan dalam Masyarakat Bugis

Tim Okezone, Jurnalis
Jum'at 28 Oktober 2022 05:00 WIB
Serat La Galigo/ Doc: Lontara Project
Share :

Louie menyebut tokoh perempuan lainnya, I We Cudai, sosok yang disebutnya berani dan tak ragu menyatakan ketidaksepahaman.

Sifat ini lah, yang kata Louie, juga "khas orang Makassar".

Selain itu, perempuan juga dilibatkan dalam pengambilan keputusan, sebagaimana diperlihatkan dalam kisah penciptaan manusia pertama.

Dikisahkan, penguasa langit, Datu Patotoqé melibatkan istrinya dalam diskusi itu, juga dewa-dewa lain yang hidup di laut, salah satu contoh yang menggambarkan demokrasi dan kesetaraan, kata Louie.

Lebih lanjut, Profesor Nurhayati Rahman mengatakan La Galigo tidak menampilkan tokoh budak atau tokoh hamba sahaya yang hina dina, sebagaimana yang sering diceritakan dalam sastra daerah lainnya.

Transgender dan gender kelima yang suci

Tak hanya perempuan, La Galigo juga memberi penghormatan sangat tinggi bagi calabai (laki-laki yang berperan seperti perempuan), calalai (perempuan yang berperan seperti laki-laki), juga mereka yang disebut sebagai 'gender kelima', atau tak masuk kategori pria atau perempuan.

Bissu, pendeta adat Bugis, termasuk dalam gender kelima ini, yang mendapat penghormatan tinggi di La Galigo.

"Bissu menganggap dirinya independen, bukan laki-laki atau perempuan, karena kalau dia memihak, dia tidak bisa berkomunikasi langsung dengan Tuhan.

"Mereka [Bissu] itulah yang menerjemahkan ritual-ritual ke dalam kehidupan keseharian warga," kata Nurhayati Rahman.

Ia menambahkan para bissu juga lah yang masih bisa membaca naskah La Galigo dalam aksara Lotara.

Meski mayoritas orang Bugis kini beragama Islam, Bissu masih kerap diundang dalam upacara-upacara adat yang ada.

Bissu Eka dari dari Segeri, mengatakan bissu adalah perantara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia lainnya, juga dengan alam.

Posisi bissu sangat erat kaitannya dengan sastra La Galigo, karena "25 persen naskah itu bercerita tentang peranan bissu dan memuat pedoman bagi mereka untuk bertingkah laku," ujarnya.

Lebih lanjut, nilai toleransi tercermin dari pengakuan atas lima gender di naskah itu.

"Untuk mencapai kesempurnaan harus ada lima gender," ujarnya.

La Galigo, kata bissu Eka, juga mengangkat derajat para bissu yang kerap didiskriminasi, bahkan pernah jadi buruan dalam gerakan pemurnian ajaran Islam atau "Operasi Toba" (operasi taubat) tahun 1966.

(Nanda Aria)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya