La Galigo dan Kisah Gender Kelima yang Disucikan dalam Masyarakat Bugis

Tim Okezone, Jurnalis
Jum'at 28 Oktober 2022 05:00 WIB
Serat La Galigo/ Doc: Lontara Project
Share :

JAKARTA - Karya sastra asal Sulawesi Selatan yang ditulis ratusan tahun lalu memuat nilai demokrasi, kesetaraan gender, hingga penghormatan pada kelompok transgender. Sekelompok anak muda tengah berupaya memperkenalkan dan melestarikan karya itu.

Naskah kuno itu adalah La Galigo, yang disebut sebagai karya sastra terpanjang di dunia dan diakui oleh UNESCO sebagai bagian Ingatan Kolektif Dunia tahun 2011 silam.

 BACA JUGA:Viral Video Juru Parkir Pukuli Driver Ojol di Kota Bogor, Polisi Selidiki

Louie Buana, 29, terpukau saat pertama kali membaca ringkasan cerita La Galigo terbitan Universitas Gadjah Mada (UGM) Press di bangku kuliah dulu.

Kata 'La Galigo' memang selalu ada di kepalanya sejak ayahnya menjelaskan padanya bahwa tak hanya Jawa dan Bali yang memiliki karya sastra asli. Sulawesi pun punya karya sastra sendiri, yakni La Galigo.

 BACA JUGA:Sidang Perintangan Penyidikan, Saksi Bantah Diperintahkan Skrinning CCTV Rumah Dinas Sambo

Namun, pemuda asli Makassar itu tak pernah tahu secara spesifik isi cerita itu, sampai dia kemudian membaca ringkasannya.

"Saya baca dan kaget. Wah, ini kok keren banget ya? Ini ceritanya kayak the Lord of the Rings. Ceritanya kalau dibikin jadi film kolosal bisa banget," kata Louie, dikutip dari BBC, Kamis (27/10/2022).

"Imajinasinya orang Bugis saat itu gila banget. [Saya] sudah kayak... larut dalam bacaan La Galigo sampai bisa bayangin cerita film fantasi," tambahnya.

Sejak saat itu, Louie mendalami dan meneliti cerita dan tokoh-tokoh dalam La Galigo, yang disebutnya "seakan terlupakan, dormant, dan hibernasi terlalu lama".

Bersama kawannya, Maharani Budi, 30, dan dua temannya yang lain, Louie lalu membentuk 'Lontara Project' untuk memperkenalkan La Galigo pada kalangan anak muda.

Hal itu didorong pula oleh keinginan mereka untuk melawan stigma 'gemar tawuran' yang menempel pada pemuda Makassar, dengan memperkenalkan sesuatu yang positif dari tanah Sulawesi.

Sejak 2011, mereka mengumpulkan relawan-relawan untuk berpartisipasi dalam sejumlah proyek mempromosikan La Galigo melalui medium musik, desain grafis, hingga diskusi-diskusi.

"Kami rencananya mau merangkum isi-isi La Galigo yang kami pelajari selama 10 tahun belakangan dalam bentuk buku, yang kami sebut mini ensiklopedia La Galigo."

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya