Lima Tokoh Bangsa Penerima Gelar Pahlawan Nasional 2022, Ini Kiprahnya

Raka Dwi Novianto, Jurnalis
Kamis 10 November 2022 08:06 WIB
5 tokoh bangsa penerima gelar Pahlawan Nasional 2022/Foto: Sekretariat Kabinet
Share :

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada tahun 2022 kepada lima tokoh di Istana Negara, Jakarta pada Senin 7 November 2022.

Penganugerahan tersebut sesuai dengan keputusan presiden republik Indonesia nomor 96 TK tahun 2022 tentang penganugerahan gelar pahlawan nasional.

 BACA JUGA:Ketika Satgas Yonif Raider 142/KJ Membuat Atap Rumbia

1. DR. dr. H. R. Soeharto

Gelar pahlawan pertama diberikan kepada almarhum DR. dr. H. R. Soeharto dari Jawa Tengah. Soeharto dinilai telah berjuang bersama Presiden Soekarno dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Bahkan setelah kemerdekaan, almarhum DR. dr. H. R. Soeharto ikut serta dalam pembangunan sejumlah infrastruktur di Tanah Air.

 BACA JUGA:5 Pahlawan Nasional Asal Surabaya, Nomor 3 Perintis TNI AU

"Ikut pembangunan department store syariah dan pembangunan Monumen Nasional serta Masjid Istiqlal dan pembangunan Rumah Sakit Jakarta, serta salah seorang pendiri berdirinya IDI (Ikatan Dokter Indonesia)," kata Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, Mahfud MD.

Ia juga pelopor program Keluarga Berencana (KB). Dokter pribadi Soekarno ini juga pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian Rakyat, Menteri Perdagangan, Menteri Urusan Bank dan Modal Swasta, dan Menteri Urusan Perencanaan Pembangunan Nasional.

2. KGPAA Paku Alam VIII

Kedua, pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada almarhum KGPAA Paku Alam VIII yang merupakan Raja Paku Alam dari tahun 1937-1989.

Beberapa jasa yang telah diberikan almarhum KGPAA Paku Alam VIII antara lain bersama Sultan Hamengkubowono IX dari Keraton Yogyakarta mengintegrasikan diri pada awal kemerdekaan Republik Indonesia sehingga Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi utuh hingga saat ini.

"Sehari sesudah (kemerdekaan) itu beliau menyatakan bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia dan kemudian Yogyakarta menjadi ibu kota yang kedua dari Republik ketika terjadi agresi Belanda pada tahun 1946," jelas Mahfud.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya