Dengan adanya Perang Salib, Paus Urbanus II menganggap kerja sama dengan Alexios akan meningkatkan wibawa kepausan, karena memimpin pasukan gabungan barat, dan mengkonsolidasikan posisinya di Italia. Sebelumnya, ia mengalami ancaman serius dari Kaisar Romawi Suci yang bahkan memaksa para paus untuk pindah dari Roma.
Paus Urbanus II juga berharap untuk menyatukan kembali gereja-gereja Kristen Barat (Katolik) dan Timur (Ortodoks) di bawah kepemimpinannya sendiri di atas Patriark Konstantinopel. Pasalnya, kedua gereja tersebut telah terpecah sejak 1054 M karena ketidaksepakatan tentang doktrin dan praktik liturgi.
Perang Salib makin diperkeruh lebih luas dengan berbagai ancaman Islam terhadap wilayah-wilayah Kristen dan umat Kristen yang tinggal di Yerusalem. Hal yang paling penting adalah hilangnya kendali Kristen atas Tanah Suci dengan situs-situs uniknya yang memiliki signifikansi historis bagi Kekristenan, khususnya makam Yesus Kristus, yang merupakan Makam Suci di Yerusalem.
Selain itu, Spanyol adalah pengingat betapa gentingnya situasi dunia Kristen sebenarnya. Pada 1085 M, setengah dari Spanyol kembali ke tangan Kristen, dan Normandia telah merebut Sisilia kembali ke kelompok Kristen, tetapi ancaman Muslim di Eropa tetap menjadi ancaman yang kuat. Daya tarik Alexios I Komnenos dinilai memiliki segala macam keuntungan dari segi politik dan agama.