Keguyuban Warga Desa Bangkit dari Gempa Cianjur

Antara, Jurnalis
Kamis 01 Desember 2022 06:25 WIB
Keguyuban warga desa Cianjur pasca gempa (Foto : Antara)
Share :

Bangkit dari bencana

Kepala Desa Ciputri Nia Novi Hertini bersama forum koordinasi pimpinan desa berkolaborasi menggalang bantuan masuk ke Desa Ciputri, dengan menghubungi mitra-mitra Desa Wisata Sarongge, termasuk menjemput bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Cianjur di Pendopo Bupati.

Bahkan, Menteri Sosial Tri Rismaharini sempat menyambangi Desa Ciputri, Kamis (24/11), tenda-tenda dan bantuan sosial untuk warga korban gempa mulai mengalir.

Agar distribusi bantuan merata, Nia memberi tanggung jawab kepada ketua RT dan RW untuk mendata kebutuhan dasar harian, seperti pangan dan kebutuhan sandang, seperti pakaian, terpal, tenda, tempat tidur, selimut, pakaian dalam, hingga pembalut wanita dan obat-obatan.

Setiap RT dan RW diharuskan mengisi formulir kebutuhan dasar harian dan kebutuhan sandang, ditandatangani dan di stempel RT untuk diajukan kepada petugas posko bantuan. Lalu, yang boleh datang ke posko bantuan Sarongge Valley mengambil bantuan wajib membawa kartu pengenal.

Petugas di posko bantuan Sarongge Valley akan memberikan bantuan sesuai data yang dibagi masing-masing ketua RT. Pendistribusian bantuan ke posko-posko pengungsi dibantu oleh anggota TNI dari Yonif 315 Garuda yang bersiaga di lokasi.

Menurut Nia, wajar di hari pertama, kedua dan ketiga setelah gempa, pendistribusian bantuan masih terkendala, karena konsentrasi aparat desa terpecah lantas ikut menjadi korban gempa.

Nia juga menemukan bayinya diselamatkan oleh warga dari reruntuhan plafon di rumahnya, karena saat gempa terjadi ibu dua anak itu baru selesai mengawal kunjungan Bupati Cianjur Herman Suherman di Kantor Desa Ciputri.

Tujuh hari berlalu, Nia mengajak warganya untuk sama-sama bangkit dari bencana, meski bantuan yang masuk tidak berlimpah, namun dipastikan cukup selama masa tanggap darurat.

Namun Nia tidak ingin warganya berpangku tangan saja, karena masa tanggap darurat diputuskan pemerintah hanya selama 30 hari. Perjalanan hidup selanjutnya menjadi tanggung jawab masing-masing warganya.

Nia meminta warganya untuk kembali bekerja, walau mereka kehilangan rumahnya, tetapi tidak kehilangan mata pencaharian sebagai petani. Kebun-kebun mereka perlu diurus, agar bisa kembali menghasilkan sayuran untuk dijual.

“Kami itu kehilangan rumah, tempat untuk tinggal, tapi kami tidak kehilangan mata pencaharian. Ayo kembali kerja, ada kebun-kebun yang perlu kita urus,” kata Nia kepada warganya.

Tidak hanya aparat desa yang memiliki semangat untuk bangkit dari bencana, warga diwakili para ketua RT dan RW juga punya niatan yang sama, bahkan dengan antusiasnya mereka mengisi daftar kebutuhan harian warganya.

Mereka tak segan-segan bertanya berkali-kali kepada kepala desa terkait tata cara pengisian formulir bantuan tersebut. Mereka juga menyampaikan aspirasi apa saja yang mereka butuhkan selama di pengungsian, seperti meminta pengamanan untuk rumah-rumah mereka yang ditinggal agar tidak dijarah oleh maling.

Erwin, Ketua RT 02 RW 02 sempat curhat, bahwa pengurus RT sudah berjibaku mendistribusikan bantuan untuk warganya. Ia berharap kerja sama warga agar jangan sampai lelah letih mereka sia-sia karena berita warga yang mengaku belum makan.

Serda Acep Agung, anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) Desa Ciputri, waspada dengan menggerakkan keamanan lingkungan, memberlakukan sistem keamanan keliling (siskamling) atau ronda, agar rumah-rumah yang ditinggal penghuni saat mengungsi tetap terjaga dari tangan-tangan jahil yang mencari keuntungan.

(Angkasa Yudhistira)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya