JAKARTA - Haji Salahuddin Bin Talabuddin merupakan tokoh nasional yang diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 2022. Haji Salahuddin Bin Talabuddin, melaksanakan ibadah haji selama tiga tahun untuk mendalami islam pada 1907 hingga 1910.
Haji Salahuddin kembali ke tanah air dan menuju ke kampungnya di Gemia, Patani, pada tahun 1911. Selama berada di Patani, pekerjaan sehari-harinya adalah mengajarkan baca-tulis Alquran pada anak-anak.
Tahun 1916, Haji Salahuddin Bin Talabuddin pindah ke Salawati, Raja Ampat dan menikah dengan anak Raja Ampat dan berdakwah. Haji Salahuddin Bin Talabuddin mengajarkan barazanji, saraffal anam, menyatukan umat islam untuk menentang penjajahan. Aktifitasnya tersebut tidak disukai oleh Polisi Belanda di Salawati.
Kemudian, pada tahun 1918 – 1923 Raja Ampat dilanda penyakit Beri-beri (hepatitis). Samari, anak angkatnya, meninggal karena hanya diobati dengan pengobatan tradisional dan Haji Salahuddin didakwa membunuh anaknya dengan membiarkan mati tanpa pengobatan (vaksin).
Atas tuduhan pembunuhan itu, Ia dijatuhi hukuman pembuangan sebagai akal bulus pemerintah kolonial untuk menghentikan aktivitas Pengajian dan dakwah anti Belanda yang dijalankan sejak tahun 1918.
Haji Salahuddin Bin Talabuddin dibuang ke Sawah Lunto dengan tuduhan pembunuhan anak untuk menghentikan gerakan dakwah. Pada 1925 – 1926, Sepulang dari Sawah Lunto, Ia bergabung dalam organisasi Sarekat Islam (S1 - Merah) dan lagi-lagi menjadi Buronan Politik, dan lolos dari penangkapan karena Pemerintahan Belanda menangkap S1 Merah yang dituduh biang dari Pemberontakan PKI.
Haji Salahuddin dianggap berbahaya, namun dalam laporan MEMORIES VAN OVERGAVE disebut tidak ada aksi PKI di Weda dan setelah itu Haji Salahuddin Bergabung dengan PSII dan juga duduk sebagai Pengurus GAPI yang bersemboyan Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Satu Cita-cita menuju Indonesia Merdeka.
Pemerintah Belanda kemudian melakukan penangkapan besar-besaran terhadap aktivis GAPI dan Haji Salahuddin Lolos dari penangkapan.
Pada 1927 – 1937, Haji Salahuddin bersembunyi dari goa ke goa sambil mendalami Ilmu Tarekat Qadariah. Atas perilakunya itu, Ia dianggap gila, akhirnya ia ke Salawati dan kembali membuka pengajian dan melancarkan dakwah serta memperoleh banyak murid dan pengikut dan kembali mengorganisir pengajian dan aktivitas yang bertujuan menantang Pemerintah Kolonial Belanda.
Tahun 1937, melalui organisasi SJII (Syarikat Jamiatul Iman Wal-Islam) yang dibentuknya , Ia memompakan perjuangan anti Belanda pada murid dan pengikut-pengikutnya yang ternyata anggotanya bukan hanya orangorang Islam tapi juga terdiri atas orang-orang Kristen, karena tema utamanya adalah menuju Indonesia Merdeka dan mengusir Belanda, karena itu Ia membentuk sayap militer dalam SJII.