Kisah Haji Salahuddin, Gugur Ditembak Belanda Saat Takbir dengan 12 Peluru Bersarang di Tubuhnya

Widi Agustian, Jurnalis
Jum'at 16 Desember 2022 06:03 WIB
Haji Salahuddin. (Foto: Setneg)
Share :

Tidak hanya laki-laki yang bertempur menghadapi Belanda, tapi juga kaum perempuan sebanyak 600 orang ikut bertempur berhadapan langsung dalam perkelahian melawan Pasukan Belanda, dan Belanda pun lari ke kapal dan meninggalkan Patani.

Tanggal 16 – 17 Februari 1947, Kapal Perang Belanda tiba di Patani dengan membawa tambahan pasukan. Ikut serta Residen Ternate (yang juga Sultan Ternate) Iskandar Muhammad Djabir Syah bersama asissten Residen Ternate Mr De Leeuw bersama pasukan Belanda dengan persenjataan lengkap.

Sultan Ternate yang juga sebagai Residen Ternate, menemui langsung Haji Salahuddin dan Haji Salahuddin sangat maklum atas kedatangan Sultan Ternate, seorang Sultan yang sangat dihormatinya dan datang sendiri untuk menemuinya untuk membawa atau menjemputnya ke Ternate dengan tangan yang diikat, Ia pun berteriak “ALLAHU AKBAR! Lanjutkan perjuangan.”

Ia pun segera dibawa ke atas kapal perang sambil berteriak dengan lantang “Hidup Islam, Hidup Sarekat Islam, Hidup Republik Indonesia, Allahu Akbar”.

Walau demikian Ia pun tetap tenang dihadapan Sultan Ternate, seorang yang sangat dihormatinya. Namun setelah Ia naik ke atas kapal, terjadilah perkelahian antara pengikutnya dengan pasukan Belanda. 11 orang meninggal dan puluhan yang luka tembak demikian juga di pihak Belanda.

Kemudian, pada 1947, Sultan Ternate memerintahkan agar semua senjata tajam diserahkan, setibanya di Ternate, Ia dijebloskan ke penjara dalam Benteng Orange. Dalam proses pengadilan Ia menolak untuk diadli karena Ia menganggap Indonesia sudah merdeka dan yang berhak untuk mengadilinya kalau Ia melanggar adalah Pengadilan RI. Ia menolak Pengadilan Belanda karena tidak sah, tapi Pengadilan Tidore yang mengadilinya dengan dakwaan melakukan makar untuk menggulingkan kekuasaan Pemerintah Belanda. Ia diminta untuk mengajukan banding dan meminta maaf tapi Ia menolak.

Selanjutnya, 6 Juni 1948, Ia pun dijatuhi hukuman mati didepan 12 orang regu tembak, tanpa rasa takut Ia minta agar matanya tidak ditutup dan tangannya tidak diikat serta berpesan pada regu tembak yang akan mengeksekusinya agar diizinkan takbir untuk sholat sunnah.

Setelah Ia mengangkat tangan untuk takbir, Ia meminta agar ditembak dan maut pun menjemputnya dengan 12 peluru bersarang di tubuhnya. 

(Widi Agustian)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya