JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy mengatakan, pengentasan stunting di Indonesia masih kalah dari Malaysia dan Singapura.
“Stunting ini masih menjadi problem bangsa kita jumlahnya masih 22,6% dan target dari Bapak Presiden 2024 itu stunting harus di bawah 14%. Hingga paling tidak untuk 2 tahun terakhir ini paling tidak harus 3% per tahun. Target yang sangat-sangat berat dan harus kita upayakan sudah tercapai. Untuk menjadi negara maju stunting ini harus di bawah 10%. Malaysia itu sudah 4%, Singapura itu sudah nol koma sekian persen,” ucap Muhadjir dalam keterangannya saat menghadiri Promosi Desa Wisata Nusantara Tahun 2022, Jumat (16/12/2022).
Muhadjir mengajak semua pihak ikut bertanggung jawab dalam penurunan angka stunting ini. Apalagi, katanya, angka stunting paling banyak di desa.
“(Ini) juga menjadi tanggung jawab pemerintahan desa di bawah tanggung jawab dari bapak Kementerian Desa itu adalah stunting. Stunting juga itu yang paling banyak di desa.”
“Kalau kita ingin mengejar ketertinggalan tetangga-tetangga kita maka kita mestinya dalam waktu yang tidak lama itu angka penting kita harus sudah di bawah 10%, syukur-syukur sudah di bawah 5%. Ini menjadi pekerjaan kita bersama,” kata Muhadjir.
Ia menyebutkan, stunting terkait dengan masalah gizi. Sehingga, harus ada langkah yang sangat konkret bagaimana menangani stunting ini.
“Saya mohon juga program Wisata Nusantara ini, desa wisata Nusantara ini juga masuk menjadi bagian dari pengungkit upaya kita untuk mengentas stunting ini.”
“Stunting itu bukan pendeknya orang atau bukan ringannya, kurang bobot atau pendek panjangnya bayi, tapi sebetulnya adalah otak, itu hanya indikator saja untuk mengetahui bahwa dia punya potensi stunting itu kalau panjangnya bayi kurang atau beratnya kurang, tetapi sebetulnya itu menjadi petunjuk bahwa otaknya tidak tumbuh dengan baik,” ucapnya.