Shima pun melahirkan anak pertamanya berjenis kelamin perempuan bernama Parwati. Beberapa tahun kemudian sang ratu ini melahirkan Narayana atau Iswara. Kelak Parwati ini menikah dengan Jalantara atau Rahryang Mandiminyak, putra mahkota dari Kerajaan Galuh purba.
Perkawinan Parwati dan Rahryang Mandiminyak melahirkan Sannaha, ibu Sanjaya. Sementara dari Iswara, kelak melahirkan Dewasinga ayah dari Sudiwara. Karena Sanjaya dan Sudiwara menikah, hingga melahirkan Rakai Panangkaran, sang raja Mataram Kuno. Di sinilah darah keturunan Ratu Shima dan Kartikeyasingha kembali bersatu.
Perihal naiknya Shima menjadi penguasa terjadi setelah sang suami Kartikeyasingha meninggal dunia pada 674. Sementara anaknya Parwati dan Narayana, belum siap menjadi raja, karena usianya masih sangat belia. Akhirnya Ratu Shima pin naik tahta menjadi raja di usia yang cukup 63 tahun. Ketika menjadi ratu inilah ia berstatus janda.
Saat bertahta inilah sang ratu mendapatkan pinangan dari Sri Jayanasa raja Sriwijaya. Namun pinangan yang bernuansa politis ditolak mentah-mentah oleh Ratu Shima. Hal ini memicu kekecewaan Sri Jayanasa, yang berniat menyerang Kalingga pada tahun 686.
Tetapi rencana ini diketahui oleh Tarusbawa, yang merupakan Raja Sunda turun tangan. Ia pun mengirim surat kepada Sri Jayanasa, bahwa ia tidak setuju dengan rencana raja Sriwijaya itu. Dengan alasan agar tidak timbul kesan bahwa gara-gara pinangannya ditolak Ratu Shima, Sri Jayanasa hendak menyerbu Kalingga.
Sebab surat dari Tarusbawa inilah Sri Jayanasa mengurungkan niatnya untuk menyerbu Kalingga. Kapal-kapal Kalingga yang ditahan oleh Sriwijaya dilepaskan sesudah hartanya dirampas.
(Angkasa Yudhistira)