Kisah Jaka Tingkir Menukar Tanah Mataram dan Pati dengan Nyawa Arya Penangsang

Solichan Arif, Jurnalis
Senin 26 Desember 2022 04:58 WIB
Share :

Mereka merupakan keturunan Ki Ageng Sela, dan Jaka Tingkir sudah lama mengenalnya. Bahkan Sutawijaya telah diangkatnya sebagai putra yang diberinya gelar Ngabehi Loring Pasar.

”Syukur Kakang, Kakang sendiri yang sanggup membunuh Arya Penangsang. Tanah Pati dan Mataram untuk kakang. Selanjutnya rencana kakang bagaimana,” kata Jaka Tingkir seperti dikutip dari Babad Demak.

Ki Ageng Pemanahan yang menjadi juru bicara menyatakan ia sendiri yang akan memimpin perang. Ia dan Ki Ageng Panjawi, Ki Juru Martani, Danang Sutawijaya, serta 200 prajurit Pajang akan melabrak Kadipaten Jipang Panolan.

Ki Ageng Pemanahan terkenal berakal panjang. Dengan kecerdikannya, digugahnya emosi Arya Penangsang. Setiba di wilayah Jipang, diam-diam seorang perawat kuda Gagak Rimang, yakni kuda kesayangan Arya Penangsang, ditangkapnya.

Satu telinga tukang kuda itu lalu dipotong, dan pada bagian yang terluka disumpalkan surat tantangan.

“Penangsang, jika kamu memang benar-benar jantan dan pemberani, ayo hadapi aku, perang tanding satu-satu, jangan membawa prajurit. Sebrangi sungai, kutunggu kedatanganmu di seberang sungai sekarang juga”.

Dalam surat tertanda Jaka Tingkir atau Sultan Pajang Hadiningrat selaku penantang Arya Penangsang. Membaca isi surat tantangan, emosi Arya Penangsang sontak meledak.

Arya Mataram adik Penangsang serta Ki Mataun, patih sekaligus penasihat Kadipaten Jipang, berusaha mencegah. Keduanya cuirga semua itu hanya jebakan orang-orang Pajang. Namun Penangsang yang sudah terbakar amarah, tak bisa lagi dicegah.

Arya Penangsang memacu Gagak Rimang seorang diri. Pertempuran di pinggir bengawan sore tak terelakkan. Pertempuran yang tak seimbang. Arya Penangsang tewas setelah tombak Kiai Plered yang dilempar Sutawijaya menembus dadanya.

Ki Mataun yang menyusul dan mencoba membantu juga binasa. Leher patih Kadipaten Jipang Panolan itu dipenggal dan kepalanya dipajang di tepi sungai. Sesuai janjinya, Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya memberikan hadiah tanah Mataram dan Pati.

Ki Ageng Pemanahan yang merasa lebih tua, mengalah dengan memilih tanah Mataram (hutan Mentaok) yang berupa hutan belantara. Kelak, di hutan Mentaok itu berdiri Kerajaan Mataram Islam pertama. Sedangkan Ki Panjawi mendapat tanah Pati. Ki Ageng Pemanahan juga diminta memberitahu Ratu Kalinyamat kalau Penangsang sudah mati.

“Kakang Pemanahan, tolong kakang ke Danaraja dulu untuk menemui dan memberitahu Ratu Kalinyamat bahwa bahwa Arya Penangsang sudah mati. Pesanku, hendaknya beliau menghentikan tapanya,” kata Jaka Tingkir seperti dikutip dari Babad Demak.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya