KITAB Nagarakretagama menjadi salah satu referensi sejarah utama ketika membicarakan Kerajaan Majapahit. Kitab ini merupakan karya sastra dari seorang pujangga bernama Mpu Prapanca. Namun sosok Mpu Prapanca bukanlah penulis Nagarakretagama saja, melainkan ada beberapa kitab yang memuat sejarah Kerajaan Majapahit.
Saka Abda, Lambang, Parwasagara, Bhismasaranantya, dan Sugataparwa, menjadi beberapa kitab di antaranya yang ditulis Prapanca. Kakawin Lambang dan Saka Abda belum selesai, ketika Prapanca menulis Nagarakretagama. Kedua kakawin itu masih akan dilanjutkan kemudian.
Demikianlah penciptaan Sugataparwa, Bhismasaranantya, dan Parwasagara mendahului penciptaan Nagarakretagama. Kakawin apa lagi yang diciptakan Prapanca kemudian, tidak diketahui. Bahkan, kakawin yang disebut dalam Nagarakretagama itu pun sebagian tidak sampai kepada kita.
Namun siapakah sosok Prapanca sehingga begitu detail menuliskan sejarah Majapahit dan memiliki kedekatan dengan orang dalam istana. Slamet Muljana pada bukunya "Tafsir Sejarah Nagarakretagama", menyebutkan pada Pupuh 17/8 di Nagarakretagama pujangga Prapanca merupakan keturunan seorang dharmmadyaksa atau diartikan hakim tertinggi di masa Kerajaan Majapahit.
Sang ayah juga memiliki bakat pujangga menuliskan karya sastra sebelum menjadi dharmmadyaksa. Naluri sang ayah Prapanca menggantikan kedudukan dharmmådyaksa dan mewaris bakat kepujanggaan. Sejak kecil, Prapanca suka menghadap Sri Baginda Raja Hayam Wuruk, maksudnya agar baginda mengizinkannya mengikuti perjalanan beliau ke mana juga, karena keinginannya akan merangkaikan sejarah wilayah negara dalam kakawin.
Namun siapa sebenarnya Prapanca belum diketahui secara pasti apakah nama seorang atau hanya nama panggilan. Slamet Muljana pada bukunya juga menuliskan kemungkinan nama Prapanca adalah nama samaran.
Jelas sekali pemberitaannya dalam Nagarakretagama pupuh 17/8 dan pupuh 94/1 dari penggunaan ucapan: maparab Prapnca. Kata maparab berarti menyamar, mengambil nama samaran, mengambil nama olok-olok. Dalam bahasa Jawa baru, kata paraban nama Prapanca adalah nama samaran.
Di sumber lain dalam kakawin Niratha Prakreta, yang menurut Slamet Muljana juga karya Prapanca juga memperlihatkan jelas penciptanya mengambil nama samaran. Ia takut, kalau-kalau diketahui ciri-cirinya. Pemberitaan itu terdapat pada pupuh 13/3, juga pada pupuh itu digunakan kata maparab.