Misteri Sosok Prapanca, Pujangga Terkemuka pada Masa Majapahit Keturunan Hakim Agung

Avirista Midaada, Jurnalis
Senin 02 Januari 2023 06:59 WIB
Misteri sosok Prapanca pujangga terkenal pada era Majapahit. (Ist)
Share :

KITAB Nagarakretagama menjadi salah satu referensi sejarah utama ketika membicarakan Kerajaan Majapahit. Kitab ini merupakan karya sastra dari seorang pujangga bernama Mpu Prapanca. Namun sosok Mpu Prapanca bukanlah penulis Nagarakretagama saja, melainkan ada beberapa kitab yang memuat sejarah Kerajaan Majapahit.

Saka Abda, Lambang, Parwasagara, Bhismasaranantya, dan Sugataparwa, menjadi beberapa kitab di antaranya yang ditulis Prapanca. Kakawin Lambang dan Saka Abda belum selesai, ketika Prapanca menulis Nagarakretagama. Kedua kakawin itu masih akan dilanjutkan kemudian.

Demikianlah penciptaan Sugataparwa, Bhismasaranantya, dan Parwasagara mendahului penciptaan Nagarakretagama. Kakawin apa lagi yang diciptakan Prapanca kemudian, tidak diketahui. Bahkan, kakawin yang disebut dalam Nagarakretagama itu pun sebagian tidak sampai kepada kita.

Namun siapakah sosok Prapanca sehingga begitu detail menuliskan sejarah Majapahit dan memiliki kedekatan dengan orang dalam istana. Slamet Muljana pada bukunya "Tafsir Sejarah Nagarakretagama", menyebutkan pada Pupuh 17/8 di Nagarakretagama pujangga Prapanca merupakan keturunan seorang dharmmadyaksa atau diartikan hakim tertinggi di masa Kerajaan Majapahit.

Sang ayah juga memiliki bakat pujangga menuliskan karya sastra sebelum menjadi dharmmadyaksa. Naluri sang ayah Prapanca menggantikan kedudukan dharmmådyaksa dan mewaris bakat kepujanggaan. Sejak kecil, Prapanca suka menghadap Sri Baginda Raja Hayam Wuruk, maksudnya agar baginda mengizinkannya mengikuti perjalanan beliau ke mana juga, karena keinginannya akan merangkaikan sejarah wilayah negara dalam kakawin.

Namun siapa sebenarnya Prapanca belum diketahui secara pasti apakah nama seorang atau hanya nama panggilan. Slamet Muljana pada bukunya juga menuliskan kemungkinan nama Prapanca adalah nama samaran.

Jelas sekali pemberitaannya dalam Nagarakretagama pupuh 17/8 dan pupuh 94/1 dari penggunaan ucapan: maparab Prapnca. Kata maparab berarti menyamar, mengambil nama samaran, mengambil nama olok-olok. Dalam bahasa Jawa baru, kata paraban nama Prapanca adalah nama samaran.

Di sumber lain dalam kakawin Niratha Prakreta, yang menurut Slamet Muljana juga karya Prapanca juga memperlihatkan jelas penciptanya mengambil nama samaran. Ia takut, kalau-kalau diketahui ciri-cirinya. Pemberitaan itu terdapat pada pupuh 13/3, juga pada pupuh itu digunakan kata maparab.

Selanjutnya, pada pupuh 96/1, didapati juga nama Prapanca. Dalam pupuh ini, sang pujangga menyebut segala cacat yang terdapat pada dirinya. Pupuh ini merupakan permainan kata, dimaksud untuk menjelaskan arti nama samaran Prapanca. Prapanca terdiri dari unsur pra dan panca.

Jadi, Prapanca adalah pra lima, memang pada pupuh 96/1 itu, terdapat pra lima kali, yakni prapanca, pracacah, prapongpong, pracacad, dan pracongcong. Sekali lagi dikemukakan di sini, bahwa kakawin ini adalah kakawin permainan kata. Jika harus memahaminya perlu ditinjau dari sudut permainan kata dalam kakawin.

Pada pupuh lain tepatnya di Pupuh 92/2, 3, dan 4 memuat pemberitaan nama samaran, kakawin yang pernah diciptanya, serta tujuan penciptaan Nagarakretagama. Setelah selesai merangkaikan puja sastranya berupa kebesaran baginda di negara dan menyebut ciptaannya Deçawarnnana, uraian desa-karena ciptaan itu pada hakikatnya memuat uraian tentang desa-desa yang pernah dikunjungi baginda.

Tujuan Prapanca mengharapkan, agar baginda suka menerimanya dan ingat kepadanya, ingat kepada pujangga yang telah lama bertekun mengarang kakawin. Ucapan ini penting sekali, karena ucapan itu memberikan penjelasan, bahwa sang pujangga tidak lagi ada di keraton, berdekatan dengan baginda.

Andaikata masih ada di keraton sebagai dharmmâdyaksa kasogatan, ucapan yang demikian tidak perlu dinyatakan pada akhir pujasastra. Pupuh 93/1 menyatakan bahwa ciptaan kakawin-kakawin sebelumnya terasa sia-sia.

Kemudian, ia menyebut lima kakawinnya seperti telah dinyatakan di muka. Pupuh 94/4 memuat tujuan pen- ciptaan Deçawarnnana, yakni untuk memperoleh rahmat (kemurahan) baginda. Alasan untuk menciptakan pujasastra ialah cinta bakti sang pujangga kepada baginda. Demikianlah dapat disimpulkan bahwa pujangga Prapanca masih tetap setia bakti kepada baginda, meskipun ia tidak lagi ada di keraton sebagai pembesar urusan agama Budha.

(Erha Aprili Ramadhoni)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya