Mengurai Mitos 'Ibu Tiri Jahat' yang Masih Bertahan hingga saat Ini

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Jum'at 06 Januari 2023 05:00 WIB
Ilustrasi/Foto: BBC
Share :

JAKARTA - Dalam dunia fiksi, ibu tiri kerap digambarkan sebagai sosok yang jahat. Bahkan, tak jarang juga dipersonifikasikan sebagai seseorang berkepribadian monster.

Seperti ibu tiri Putri Salju yang iri hati dan penyihir di Hansel dan Gretel yang membuang anak tirinya ke hutan.

Keduanya termasuk dalam jenis perempuan jahat dengan "nafsu rakus akan penderitaan manusia, kadang-kadang bahkan makan daging dan darah atau hati dan jantung kerabat mereka sendiri", tulis Maria Tatar, profesor sastra, cerita rakyat, dan mitologi di Universitas Harvard, dalam The Hard Facts of the Grimms' Fairy Tales, dikutip dari BBC, Kamis (5/1/2023).

 BACA JUGA:Jadi Korban Penculikan, RS Polri Bertahap Periksa Psikologis MA

Minimal, karakter jahat ini digambarkan dingin dan tidak penyayang.

Dalam adaptasi Cinderella Disney tahun 1950, Lady Tremaine yang kejam memaksa putri tirinya melakukan pekerjaan rumah yang melelahkan, dan mendorong anak kandungnya untuk menjauhi saudara tirinya.

Film 1961 The Parent Trap menampilkan dua anak kembar yang tanpa sadar terpisah ketika orang tuanya bercerai. Mereka bekerjasama untuk menggulingkan tunangan jahat ayah mereka, dan menyatukan kembali keluarga mereka.

Dan dalam komedi-horor Wicked Stepmother, yang pertama kali tayang 1989, karakter yang diperankan oleh Bette Davis bukan hanya seorang ibu tiri, tetapi juga penyihir, secara literal dan figuratif.

Bukan kebetulan bahwa saat ini ibu tiri dianggap kurang disukai dibandingkan sosok keluarga lainnya.

Selama berabad-abad, ada lebih dari 900 cerita internasional yang ditulis tentang ibu tiri jahat, diikuti dengan berbagai adaptasi dari pembuat film.

Ibu tiri sering dianggap kurang penyayang, tidak baik hati, tak bahagia dan tak disukai. Ibu tiri dianggap lebih kejam, tidak adil, dan bahkan penuh kebencian.

Kenapa persepsi buruk ini bertahan?

Stereotipe ibu tiri yang jahat ada dalam dongeng dan cerita rakyat di seluruh dunia selama ribuan tahun. Beberapa cerita bahkan berasal dari zaman Romawi.

Di dalam Alkitab pun: Sarah, sang ibu pemimpin yang melahirkan putra Abraham, membuang anak-anaknya yang lain agar tidak perlu berbagi warisan.

Namun, sebagian besar karakter populer yang menjadi dasar film dan sastra modern bermula pada tahun 1812. Saat itu, Jerman Jacob dan Wilhelm Grimm pertama kali menerbitkan koleksi mereka, Children's and Household Tales.

Mereka menggunakan penggalan-penggalan cerita lisan dan mengadaptasikannya ke dalam narasi baru, yang kombinasinya mencatat dongeng seperti Hansel dan Gretel, Cinderella dan Putri Salju.

Meski fiktif, fokus pada ibu tiri memang mencerminkan beberapa kebenaran tentang masyarakat abad ke-19.

“Ketika dongeng-dongeng ini diciptakan, rentang hidup sangat rendah,” kata Lawrence Ganong, profesor emeritus perkembangan manusia di University of Missouri, AS, yang mempelajari keluarga tiri selama puluhan tahun.

Perempuan sering meninggal saat melahirkan, meninggalkan anak-anak dalam pengasuhan ayah saja. Ibu tiri jahat yang muncul di halaman dongeng memberikan nasihat peringatan keluarga: ayah harus melindungi dan mendukung anak-anaknya, dan ibu tiri harus melakukan hal yang benar untuk anak tirinya. Jika tidak, hal buruk akan terjadi.

Cerita-cerita itu juga menawarkan saluran terapeutik yang aman bagi pembaca untuk memproses perasaan tabu – seperti kemarahan dan kebencian pada ibu, kata Tatar.

Ibu tiri yang jahat tidak didukung data ilmiah

Terlepas dari kekuatan anggapan itu, hanya ada sedikit data yang membuktikan ibu tiri berperilaku tanpa perasaan seperti karikatur budaya populer.

Justru ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa ibu tiri tidak seperti itu.

“Mayoritas ibu tiri rukun dengan anak tiri mereka,” kata Ganong, yang telah membaca hampir 3.000 laporan penelitian tentang topik ini, dan berbicara dengan anggota keluarga tiri yang tak terhitung jumlahnya.

“Ibu tiri yang jahat tidak muncul dalam data,” kata Todd Jensen, asisten profesor di University of North Carolina, AS, yang mempelajari pola hubungan antara orang tua tiri dan anak tirinya.

Dalam survei tahun 2021 terhadap 295 anak tiri, Jensen menemukan bahwa sebagian besar anak memiliki hubungan positif dengan ibu tiri mereka.

Peserta ditanya tentang seberapa dekat perasaan mereka dengan ibu tiri mereka, seberapa besar mereka berpikir ibu tiri mereka peduli, apakah dia hangat dan penuh kasih sayang, serta seberapa puas mereka dengan komunikasi dan hubungan secara keseluruhan.

Dalam sampel ini, skor rata-rata kualitas hubungan ibu tiri dan remaja adalah 3,91 dari 5.

Hubungan ibu tiri yang positif semacam ini bisa sangat bermanfaat bagi seorang anak.

Dibandingkan dengan hubungan yang lebih negatif, Jensen menemukan bahwa hubungan positif dengan ibu tiri menyebabkan rendahnya tekanan psikologis, kecemasan, depresi, dan kesepian yang disebabkan oleh pembentukan keluarga tiri. Kehidupan sosial dan akademik pun menjadi lebih baik.

Ibu tiri benar-benar dapat "memberikan kontribusi unik untuk kesejahteraan seorang anak", katanya.

(Nanda Aria)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya