Menurutnya, dokumen Abu Dhabi bukan semata meneguhkan toleransi, tapi disusun untuk membangun kerja sama. Karena itu, di dalamnya dibahas bagaimana masalah-masalah konkret kemanusiaan bisa ditangani oleh semua umat beragama.
“Untuk membangun dunia yang baik, membangun peradaban yang membawa maslahat untuk manusia, toleransi tidak cukup hanya menghormati orang berbeda, tapi harus beralih pada semangat untuk bekerja sama,” tuturnya.
Dalam semangat peringatan Hari Persaudaraan Manusia, MHM, kata TGB, mengajak semua pihak untuk keluar dari ruang privasinya ke ruang umum, memperbanyak ruang perjumpaan, untuk membicarakan masalah bersama.
Sejumlah masalah yang disebut antara lain tentang kaum termarginalkan di dunia, anak dan perempuan korban perang yang jumlahnya jutaan, serta kelompok yang tidak mendapatkan hak asasinya atas nama apapun.
“Apa yang agama bisa lakukan? Apa bentuk kerja sama konkret kita? Dokumen Abu Dhabi tidak hanya pernyataan untuk saling menghormati, tapi juga ajakan untuk membangun kerja sama konkret menangani masalah kemanusiaan termasuk kemiskinan, masalah kaum perempuan dan anak-anak,” katanya.
“Luar biasa pencapaian teknologi kita, tapi nilai kemanusiaan kita saat ini mengalami defisit dan bahkan hampir hilang. Mari, dengan semangat Dokumen Abu Dhabi, kita membangun kerja sama konkret untuk menyelesaikan masalah kemanusiaan,” pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )