Johannes menambahkan, di Singapura, setiap warganya bisa sampai ke tujuan menggunakan transportasi umum. Sehingga, ERP bukan jalan satu-satunya yang harus dilewati.
"Artinya tanpa saya melewati jalur ERP pun, saya bisa sampai ke tujuan saya, karena banyak option. Sehingga ERP itu hanyalah salah satu option buat saya," ucapnya.
Menurut Johannes, jika sistem transportasi publik telah memadai, ERP dapat diterapkan dengan mudah di Indonesia. Ia menekankan, agar sistem ERP tersebut jangan sampai malah mempersulit warga.
"Tanpa lewat jalur ERP pun saya akan sampai ke tujuan saya dan modanya juga banyak, moda transportasinya juga banyak," katanya.
"Kita mesti lihat, apakah zona zona yang akan diterapkan ERP itu sudah ada alternatif koridor untuk orang yang tidak mau memakai ERP, Itu satu. Kedua, apakah transportasi sudah sangat tersedia di situ. Jujur aja, bicara MRT, ok dari selatan sampai ke pusat. Timur ke barat gimana? Nah sementara kalau mau diterapkan ERP ini di zona timur barat, orang ga ada pilihan," imbuhnya.
Johannes mencontohkan bagaimana seharusnya ERP diterapkan. "Contoh tol jawa sekarang itu option, kamu ga mau bayar tol ke Surabaya (harga) 600 ribu, ada Pantura ada Pantai Selatan, ada jalur Utara ada Jalur Pantai Selatan," katanya.
"Mau cepat, ya tol. Dan ERP shoul be like that tapi bukan berarti kalau saya enggak masuk jalur ERP saya engga bisa datang ke sini," pungkasnya.
(Arief Setyadi )