Dalam sejarah pers nasional, namanya tercantum dalam buku Jagat Wartawan karya Soebagijo Ilham Notodidjojo. Melalui berbagai tulisannya, ia juga berhasil menyatukan para keturunan Arab di Indonesia dengan golongan pribumi, untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.
4. Tan Malaka
Tokoh kelahiran 2 Juni 1897 asal Sumatera Utara ini mengambil peran dalam melawan penjajahan Belanda melalui tulisannya. Mulai dari propaganda Deli Spoor yang ditulis untuk para kuli, hingga tulisan tentang penderitaan kuli perkebunan teh yang tertera di Sumatera Post. Ia juga pernah melahirkan karya yang dimuat di Het Vrije Woord berjudul “Tanah Orang Miskin”, yang menceritakan kesenjangan kekayaan antara kaum kapitalis dengan pekerja.
5. Tirto Adhi Soerjo
Nama Tirtoadisuryo akrab dengan panggilan yang diraihnya sebagai Bapak Pers Nasional. Beliau yang lahir di Blora pada tahun 1880 ini pernah menuai pendidikan dokter di Stovia Batavia (1893-1900).
Dalam merintis karirnya di dunia jurnalistik, ia pernah memimpin surat kabar miliknya bernama Soenda Berita pada tahun 1901. Seusai itu, Tirtoadisuryo mendirikan mingguan Medan Priyayi pada tahun 1909 yang sayangnya berhenti terbit pada tahun 1912. Di tahun yang sama, ia mendirikan perusahaan penerbitan pertama di Indonesia, N.V Javaansche Boekhandelen Drukkerij “Medan Priyayi” pada tahun 1909 bersama Haji Mohammad Arsjad dan Pangeran Oesman.
Jejak tulisannya dapat dilihat di berbagai media massa yang ia kelola, seperti Pembrita Betawi, Soeloeh Keadilan, Poetri Hindia, Sarotomo, Soeara B.O.W, Soeara Spoor dan Tram, serta Soeraaurna.
(Angkasa Yudhistira)