JASA dan pengabdian Kolonel Infanteri (Purn) Agus Hernoto begitu harum dikenang hingga sekarang, terutama bagi prajurit Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) atau kini dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD.
Agus adalah perwira TNI yang pernah memimpin Operasi Banteng I di Irian Barat. Operasi militer tersebut sebagai tindak lanjut dari Tri Komando Rakyat (Trikora) yang diperintah oleh Presiden Soekarno pada 9 Desember 1961.
Peristiwa Operasi Banteng ini berawal saat pasukan gabungan yang terdiri dari prajurit RPKAD, anggota Pasukan Gerak Tjepat TNI AU, serta prajurit Zeni, meluncur ke dalam hutan rimba Fakfak, Papua.
Saat terjadi peperangan, pasukan Agus memiliki jumlah yang lebih sedikit dibanding tentara Belanda. Oleh karena itu, Agus harus kehilangan banyak prajuritnya karena gugur dalam peperangan.
Tentara Belanda terus mengejar dan mengepung sisa pasukan yang dipimpin Agus. Pada akhirnya kaki kiri Agus tertembak serta pecahan granat tertancap di punggung kanannya.
Saat itu juga anak buahnya yang melihat Agus kesakitan langsung membantu Agus ke tempat yang lebih aman. Namun, Agus menolak karena dirinya tidak mau pergerakan pasukan terhambat karena harus membopongnya. Dengan terpaksa, anak buahnya meninggalkan Agus di tengah hutan.
Baca juga: Pertaruhkan Jiwa Raga! Ini Deretan Jenderal Kopassus yang Nyaris Tewas di Medan Perang
Keesokan harinya, Agus ditemukan tentara Belanda saat melakukan sterilisasi setelah pertempuran yang bersimbah darah. Kemudian mereka membawa Agus ke kamp militer Belanda di Sorong.
Penderitaan Agus ternyata masih berlanjut. Di kamp tersebut, ia diinterogasi dan disiksa karena tidak ingin membongkar rahasia lokasi prajuritnya. Agus yang memutuskan untuk menjaga rahasia itu terus disiksa dengan ditusuk bayonet tepat di luka kaki kirinya yang belum lama tertembak.
Kaki kiri Agus yang tertembak itu kemudian membusuk hingga harus diamputasi karena tidak mendapatkan perawatan dengan baik oleh tentara Belanda. Tindakan ini membuat dirinya harus kehilangan sebagian kaki kirinya dan cacat selamanya.
Agus kemudian kembali ke Jakarta usai TNI berhasil merebut Papua dari tangan Belanda. Agus pun mendapat perawatan medis untuk kakinya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.
Sebagai tentara yang memiliki cacat tubuh, Agus hendak dikeluarkan dari RPKAD setelah Komandan RPKAD Kolonel Moeng Parhadimoeljo mengeluarkan kebijakan baru yang menyebut semua anggota yang invalid atau cacat akan dikeluarkan dari RPKAD.
Mendengar Agus akan dikeluarkan dari RPKAD, LB Moerdani alias Benny Moerdani membela Agus dan menentang kebijakan tersebut. Akibat aksi protesnya, Benny juga dikeluarkan dari RPKAD. Kemudian Agus dan Benny bergabung ke Kostrad. Keduanya melanjutkan karier militernya di dunia intelijen di bawah Wakil Asisten Intelijen Kostrad Letkol Ali Moertopo.
Berkat jasa-jasa dalam Operasi Banteng I tersebut, Presiden Soekarno menganugerahi para prajurit dengan penghargaan Bintang Sakti dan kenaikan pangkat luar biasa pada 19 Februari 1963 di Istana Merdeka. Namun, Agus tidak mendapatkan penghargaan itu, dirinya baru diberikan penghargaan Bintang Sakti itu pada 5 September 1987, setelah tiga tahun meninggal dunia.
Agus meninggal dunia pada 4 September 1984 akibat kanker hati yang dideritanya sejak akhir 1970-an. Jenazah Agus dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan.
*diolah dari berbagai sumber:
(Qur'anul Hidayat)