Sebagai tentara yang memiliki cacat tubuh, Agus hendak dikeluarkan dari RPKAD setelah Komandan RPKAD Kolonel Moeng Parhadimoeljo mengeluarkan kebijakan baru yang menyebut semua anggota yang invalid atau cacat akan dikeluarkan dari RPKAD.
Mendengar Agus akan dikeluarkan dari RPKAD, LB Moerdani alias Benny Moerdani membela Agus dan menentang kebijakan tersebut. Akibat aksi protesnya, Benny juga dikeluarkan dari RPKAD. Kemudian Agus dan Benny bergabung ke Kostrad. Keduanya melanjutkan karier militernya di dunia intelijen di bawah Wakil Asisten Intelijen Kostrad Letkol Ali Moertopo.
Berkat jasa-jasa dalam Operasi Banteng I tersebut, Presiden Soekarno menganugerahi para prajurit dengan penghargaan Bintang Sakti dan kenaikan pangkat luar biasa pada 19 Februari 1963 di Istana Merdeka. Namun, Agus tidak mendapatkan penghargaan itu, dirinya baru diberikan penghargaan Bintang Sakti itu pada 5 September 1987, setelah tiga tahun meninggal dunia.
Agus meninggal dunia pada 4 September 1984 akibat kanker hati yang dideritanya sejak akhir 1970-an. Jenazah Agus dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan.
*diolah dari berbagai sumber:
(Qur'anul Hidayat)