Saat Gus Dur Prediksikan Presiden Soeharto Akan Diganti pada 1998

Tim Okezone, Jurnalis
Senin 13 Februari 2023 07:00 WIB
Gus Dur (Foto: istimewa/Okezone)
Share :

Siapa Pengganti Presiden Soeharto?

Presiden Soeharto saat terpilih pada 1993 telah berusia 72 tahun. Artinya jika kembali menjabat presiden pada periode selanjutnya, maka usianya mencapai 77 tahun. Usia yang dianggap terlalu tua untuk memimpin Indonesia saat itu.

Salah satu wartawan dan pengamat politik yang punya analisis tajam soal suksesor Soeharto adalah Salim Said. Jurnalis senior ini menulis analisis politik yang diminta oleh Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung pada 1996.

Tulisan ini pada mulanya bersifat personal. Menurut Salim, Soeharto sebenarnya mengajukan Siti Hardianti alias Mbak Tutut, anak sulungnya, sebagai jago yang ia elus.

Sebagai langkah pertama, Soeharto mengamankan DPP Golkar dengan menempatkan Tutut di posisi penting. Melalui R. Hartono, Kepala Staf Angkatan Darat yang sangat loyal kepadanya dan dianggap sebagai representasi 'ABRI hijau' (tentara dari kalangan santri), Soeharto juga berusaha mendekati kelompok-kelompok Islam modernis.

Pendekatan ini paling tidak bermakna dua hal bagi Soeharto: melepaskan diri dari ketergantungan politik kepada ABRI dan mencuci dosa politiknya di masa lalu yang represif terhadap kelompok Islam.

Kalkulasi politik Soeharto jika DPP Golkar dan para legislatornya di DPR/MPR sudah diamankan, Soeharto tinggal meraup dukungan sosial dari kelompok Islam. Jika kelak ia mundur, Soeharto tinggal meneruskan kekuasaan kepada Mbak Tutut yang sudah mendapat sokongan kuat dari kelompok di luar ABRI.

“Bagi yang mengamati tingkah laku politik Soeharto akhir-akhir ini sulit menghindari kesan bahwa yang mempunyai peluang besar menggantikan Soeharto adalah Tutut. Dalam rangka itulah, orang harus melihat langkah-langkah Pak Harto mendorong putri sulungnya terlibat dalam kepemimpinan Golkar,” tulis Salim dalam bukunya Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian.

Pandangan Salim Said itu juga dibaca dengan jeli oleh Gus Dur. Paling tidak sejak 1996, Gus Dur kerap membawa Tutut berkeliling dari satu pesantren ke pesantren lain. Ia mengenalkan Tutut kepada para kiai di beberapa basis NU.

“Dengan terciptanya hubungan kemitraan antara Islam dan ABRI, maka kedua kekuatan utama ini diharapkan oleh Bapak Presiden menjadi soko guru pendukung kepemimpinan Tutut, sebagai pelanjut kekuasaan ayahandanya. Gus Dur tampaknya mengerti strategi Soeharto ini dan menyediakan diri menuntun Tutut berkunjung ke berbagai pondok pesantren,” catat Salim.

Keakraban Gus Dur dan Tutut terlibang unik. Di mana, saat itu Gus Dur merupakan salah satu simbol oposisi terkuat dan semua orang tahu bahwa Soeharto tidak menginginkannya memimpin NU lagi.

Hanya dua tahun sebelum safari pesantren itu, Gus Dur bisa memenangi Muktamar NU 1994 di Cipasung. Sementara Tutut dan Hartono adalah dua orang yang begitu getol ingin menyingkirkan Gus Dur.

“Walaupun Tutut bekerja sama erat dengan Hartono dalam usahanya menggulingkan Gus Dur dua tahun sebelum ini [pada Muktamar Cipasung 1994], ia sekarang sangat ingin rujuk dengan Gus Dur. Tutut sangat ingin menunjukkan kepada ayahnya bahwa ia seorang yang patut menjadi pewaris kursi kepresidenan,” tulis Greg Barton dalam Biografi Gus Dur.

Kedekatan Gus Dur dengan Tutut adalah salah satu momen politik penting di pengujung kekuasaan Soeharto ketika isu suksesi bukan lagi hal yang tabu dibicarakan. Ini tidak hanya menandakan kejelian Gus Dur dalam membaca situasi, tapi juga menunjukkan betapa perhitungan politiknya bisa melampaui permusuhan masa lalu.

Tidak sampai tiga tahun kemudian, Reformasi membuat perhitungan politik Gus Dur meleset. Pasalnya, Gus Dur sendiri yang jadi presiden.

(Fakhrizal Fakhri )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya