Bhatoro Katong kemudian memperoleh petunjuk dari Allah bahwa perang dapat dimenangkan jika menggunakan siasat khusus. Adapun caranya adalah menggunakan obor di keempat penjuru: utara, timur, selatan, dan barat, ketika berperang melawan Ki Ageng Kutu pada malam hari. Jika disiasati dengan terang obor, mata Ki Ageng Kutu beserta bantengnya pasti silau, tidak jelas penglihatannya. Jika tidak diterangi obor, matanya dapat melihat secara jelas seperti halnya pada siang hari sehingga sering unggul.
Benar saja ketika hari yang telah ditentukan dan segala obor disiapkan di keempat penjuru, seketika itu pula Ki Ageng Kutu dan bantengnya kerepotan. Semak dikira musuh, musuh dikira semak. Lompatan banteng menabrak- nabrak karena tidak melihat dengan jelas.
Banteng itu bahkan tak bisa menerjang musuh dalam hal ini pasukan Bhatoro Katong dan beberapa kali harus terjungkal menabrak pepohonan besar. Lewat tengah malam di sebelah timur terdapat sebuah semak menggunung. Karena dikira musuh, semak itu pun diterjang dari sisi barat dengan sepenuh tenaga. Lompatan banteng sedemikian keras membentur semak berbatu, banteng terjungkal pingsan.
Ki Ageng Seloaji dengan segera menyerang Ki Ageng Kutu yang jatuh dari banteng. Selanjutnya ia menusukkan tombak ke dadanya hingga tembus ke tulang belikat. Ki Ageng Kutu tewas beserta bantengnya sekalian. Ketika Ki Ageng Kutu didekati Batoro Katong dan hendak diperiksa, mayat berikut bantengnya naik ke langit, kemudian musnah.
(Erha Aprili Ramadhoni)