Kisah Bung Karno di Balik Wejangan Para Guru Spiritual

Tim Okezone, Jurnalis
Selasa 21 Februari 2023 07:03 WIB
Soekarno atau Bung Karno (Foto: Ist)
Share :

JAKARTA - Soekarno atau Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia memiliki guru spiritual. Salah satu yang didengarnya, Drs Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono.

Dia adalah kakak dari Raden Ajeng (RA) Kartini. Wejangan yang diberikan membuat jiwa dan semangat Bung Karno berkobar dalam memimpin Indonesia.

BACA JUGA:Pertemuan dengan Soekarno, Jadi Awal Perseteruan Sarwo Edhie dan Soeharto 

Kisahnya pernah disampaikan Dokter Soeharto mengenai sumber kekuatan mental spiritual Bung Karno. Dokter Soeharto adalah dokter pribadi Bung Karno yang kerap menemani Bapak Proklamator itu.

“Secara mental spiritual Bung Karno masih kuat dan segar karena mempunyai hubungan dengan dua orang penasihat spiritualnya,” kata dokter Soeharto seperti disampaikan H Maulwi Saelan dalam buku “Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66”.

Dalam sebuah kesempatan Dokter Soeharto pernah menemani Bung Karno menunaikan ibadah haji tahun 1955. Bahkan, Pertemuan rahasia antara Bung Karno dengan Tan Malaka di awal kemerdekaan juga berlangsung di rumah dokter Soeharto.

BACA JUGA:Kisah Presiden Soekarno Membuat Presiden Amerika Serikat Mati Kutu Ketakutan 

Dokter Soeharto menceritakan, Maulwi Saelan menjadi sebutan bagi Drs Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono, salah satu penasihat spiritual Bung Karno.

Sosrokartono lahir di Mayong, Jepara, Jawa Tengah 10 April 1887. Sosrokartono bukan orang sembarangan secara intelektual.

Ia merupakan lulusan Universitas Leiden Belanda tahun 1908 Jurusan Sastra Timur dan menjadi murid terpandai Prof Dr. H Kern Leiden. Ia menguasai 37 bahasa, dan karenanya ia disanjung sebagai manusia jenius. 

Beragam julukan disematkan atas kepandaiannya oleh kaum intelektual Barat. Seperti De Javanese Prince (Sang Pangeran Jawa) dan De Mooie Sos.

Sosrokartono pernah menjadi jurnalis koran The New York Herald terbitan New York saat berada di Eropa. Kala itu, sedang terjadi Perang Dunia I pecah (1914-1918).

Kemudian, menjadi juru bahasa untuk Sekutu (1918) di Jenewa. Dirinya pindah ke Perancis menjadi mahasiswa pendengar di Universitas Sorbonne, jurusan psikometri dan psikotekhnik.

Sepak terjangnya tak berhenti di situ, dirinya pernah menjadi Pegawai Tinggi Atase Kedutaan Besar Perancis di Den Haag tahun 1921. Sosrokartono kembali ke Indonesia setelah 29 tahun melanglang di Eropa.

Di Indonesia, Soskrokartono tinggal di Bandung, Jawa Barat sejak 1927 menjalani kehidupan sebagai pendidik bersama Ki Hajar Dewantara. Hingga akhirnya, dikenal sebagai ahli kebatinan.

Ajaran Sosrokartono yang terkenal yakni mengoptimalkan indera rasa, mengasah rasa baik jasmani maupun rohani. Pada 1899 Sosrokartono pernah berpidato bahasa Belanda dalam sebuah acara Kongres Bahasa di Gent, Belgia.

“Saya akan menyatakan sebagai musuh kepada siapa saja yang akan mengubah Bangsa Jawa (Indonesia) menjadi orang Eropa. Selama matahari dan bintang masih bersinar, saya akan melawan mereka itu!”.

Pada tahun 40 an, ia pernah meramalkan, bahwa dengan dibukanya Terusan Suez yang banyak memakan korban, Asia dan Afrika akan bersatu padu di Bandung Jawa Barat.

Kota Bandung pun ternyata menjadi tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika beberapa tahun kemudian, tepatnya 1955.

Sebelum wafat pada 8 Februari 1952, Soskrokartono menanti kedatangan Bung Karno. Kemudian, kepada dokter Soeharto, menyampaikan pesan untuk Bung Karno, bahwa perjuangan belum selesai.

Untuk mewujudkan Indonesia merdeka, masih perlu perjuangan lama. Dalam perjalananannya akan akan penuh warna pertengkaran, kekacauan dan jatuhnya banyak korban.

Sosrokartono pun menyatakan akan selalu siap membantu.

“Tetapi Bung Karno mesti eling (ingat) terus. Meskipun Bung Karno sudah menjadi Presiden Republik Indonesia, masih memerlukan petunjuk dan nasihat,” kata Soskroartono seperti dikutip dari “Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66”.

Bung Karno kerap mengikuti nasihat serta arahan guru spiritualnya dalam mengambil langkah dan tindakan. Bukan hanya kepada Soskroartono, seperti kepada Abdurachim, guru spiritual Bung Karno yang lainnya.

Abdurachim, guru spiritual Bung Karno berasal dari Banten. Ia tinggal di wilayah Petojo Selatan, Jakarta.

Maelwi Saelan mengaku pernah diperintah Bung Karno mengunjungi Abdurachim yang dikabarkan sedang sakit keras. Kemudian, menyampaikan pesan untuk Bung Karno agar tidak mencemaskan sakitnya.

Abdurachim merasa sakit yang dideritanya merupakan ujian dari yang mahakuasa. Ia juga mengaku memiliki memiliki hubungan batin yang dekat dengan Bung Karno.

Seperti halnya hubungan Bung Karno dengan Sosrokartono. Jika Bung Karno bersedih, ia juga ikut sedih. Sebaliknya, ketika Bung Karno gembira, dirinya juga ikut gembira.

Sebelum meninggal dunia pada 28 Maret 1967, Abdurachim sempat bertemu Bung Karno di guesthouse Istana sebelum meninggal dan menjadi pertemuan terakhir. Ia menyelipkan pesan agar Bung Karno Ikhlas menyerahkan kepemimpinan bangsa Indonesia kepada yang lain.

Melihat kondisi Bung Karno yang sudah tua, yakni berusia 65 tahun dan sakit-sakitan, sebaiknya berkonsentrasi dengan kesehatan. Selain itu, agar lebih banyak mendekatkan diri kepada yang maha kuasa.

“Bung Karno harus lebih serius mengurus kesehatan dan berusaha berobat ke luar negeri dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT,” kata Abdurachim seperti tertulis dalam “Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66”.

Kekuasaan Bung Karno pun berakhir pada tahun 1967 setelah memimpin Indonesia selama 22 tahun. Ia wafat pada 21 Juni 1970. Kemudian, dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.

(Arief Setyadi )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya