Raut kesedihan terlihat pada keluarga besar, suami dan anaknya menunggu detik-detik kedatangan jenazah. Bahkan, 3 orang anaknya harus didampingi oleh psikologi dari Polda Bali yang mendampingi mereka karena menyangkut kejiwaan dan mental mereka.
Menurut suami korban, I Nyoman Ranten, anak-anak mereka sering video call bersama sang bunda, terutama anak bungsu mereka sering meminta video call sebelum terjadinya gempa di Turki beberapa waktu lalu.
“Pada tanggal 6 kami sudah tidak bisa menghubungi dan pada tanggal 17 dapat kabar dari KBRI di Turki," katanya.
Dua hari sebelum kejadian, Ni Wayan Supini, korban gempa di Turki ini sempat berpesan ke anak pertama mereka agar menjaga adik-adiknya dan jangan sering bertengkar. Bahkan, anak pertama ini tidak pernah berfirasat bahwa sang ibu akan meninggalkan mereka untuk selamanya.
“Pesan terakhir ibu sebelum kejadian dua hari lalu, ibu suruh jaga adik-adik jangan sering-sering berantem," ujar I Gede Krisna Adi Pratama Puta, anak pertama korban.
(Arief Setyadi )