BENGKULU – Fenomena aksi sayat tangan sendiri di SMP Bengkulu Utara menjadi perhatian banyak orang. Di antara beberapa siswi, ternyata aksi ini sudah dilakukan sejak mereka duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Aksi sayat diri ini dilakukan karena mengikuti trend yang dilakukan oleh rekan-rekannya sesama siswa. Benda tajam yang digunakan bukan berupa silet, melainkan jarum pentul, pecahan kaca, dan pisau cutter.
Polisi menyebut bahwa ada beberapa faktor yang melatarbelakangi aksi tersebut, salah satunya faktor lingkungan dan krisis identitas.
Polisi memastikan tidak ada indikasi gengster atau kelompok dari aksi para siswi. Aksi melukai diri sendiri juga tidak dilakukan dalam lingkungan sekolah.
Luka yang ditimbulkan dari aksi itu tidak terlalu berbahaya. Faktor yang melatarbelakangi para siswi melakukan aksi nekat itu di antaranya faktor internal yaitu krisis identitas atau mencari jati diri. Kemudian, faktor eksternal atau lingkungan, yaitu lingkungan keluarga dan teman, serta pengaruh media sosial.
Sementara itu, Herliyanto, orangtua J (14), siswi SMP Bengkulu Utara mengaku kecolongan atas fenomena yang dilakukan putrinya sendiri. Meski didesak, putrinya tetap enggan membeberkan terkait alasan melakukan aksi menyayat diri tersebut.
Pihaknya berharap peran serta seluruh pihak agar fenomena serupa tak terulang kembali dikemudian hari.
"Saya tidak tahu kasus menyayat diri ini. Ada puluhan orang. Ketika ditanya masalahnya apa mereka bilang tidak ada, jadi kita susah juga mencari tahu," katanya, Selasa (14/3/2023).
(Susi Susanti)