PADA awal tahun 1966, keadaan politik Indonesia sedang kacau dan bergejolak. Hal itu imbas dari adanya peristiwa G30SPKI. Keadaan itu membuat para mahasiswa Indonesia geram, sehingga para mahasiswa melakukan gerakan demonstrasi di depan Istana Negara secara masif untuk menuntut pembubaran PKI.
Mengutip buku seri Tempo berjudul "Sarwo Edhie dan Misteri 1965", sejarawan Peter Kasenda menulis di majalah Prisma pada 1991, bahwa sebenarnya Sarwo dan tentara memanfaatkan mahasiswa untuk menekan Soekarno.
Tentara tidak bisa secara frontal berhadapan dengan RI-1, karena khawatir itu justru bakal mengkristalkan dukungan di belakang Presiden.
Peter mengeluarkan pernyataan tersebut atas dasar fakta di lapangan. Diketahui Sarwo dan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) sering membantu mahasiswa di balik layar dalam kegiatan demonstrasi.
Aksi mahasiswa dalam demonstrasi itu diam-diam dipantau dan dilindungi RPKAD. Tak hanya itu, Sarwo Edhie kadang turun sendiri mengawal unjuk rasa. Sambil menyamar, dia memastikan tak ada kelompok yang mengganggu aksi-aksi mahasiswa.
Para mahasiswa ketika itu juga sempat membuat Laskar Arief Rachman Hakim, yakni sebuah komando aksi yang dibentuk mahasiswa guna mengenang rekan sesama mahasiswa yang gugur dalam demonstrasi. Laskar Arief Rachman Hakim ini didukung oleh Sarwo dan RPKAD dengan cara dibekali pendidikan militer dan diperalati senjata.
"Kami juga dipinjami pistol," kata Fahmi seorang pemimpin pasukan komando aksi, seperti dikutip dalam buku seri Tempo tersebut.