JAKARTA - Ali Anyang merupakan salah satu pejuang tangguh kebanggaan Indonesia di masa merebut kemerdekaan. Putra Indonesia asal Kalimantan Barat itu dikenal amat menakutkan bagi penjajah Belanda ketika itu.
Sejarah mencatat Tentara Belanda dibuat repot oleh perlawanan Ali Anyang. Alhasil militer Belanda mengumumkan sayembara: siapapun yang berhasil menangkap Ali Anyang, hidup atau mati, akan diberikan imbalan uang sebesar 25.000 Gulden.
"Amat begitu khawatirnya tentara Belanda oleh perjuangan Ali Anyang untuk melepaskan Indonesia dari belenggu penjajahan," demikian dilansir dari laman Indonesia.go.id, Jumat (7/4/2023).
Namun, sosok Ali Anyang pada awalnya bukanlah tentara. Dia justru berprofesi sebagai perawat.
Ali Anyang adalah putra asli keturunan suku Dayak, Kalimantan Barat. Nama kecilnya Anjang atau dibaca Anyang. Sejak usia 8 tahun, Anjang telah diadopsi oleh keluarga bangsawan asal Jawa yang bermukim di Kalimantan Barat, yaitu Raden Mas Suadi Djoyomihardjo.
Keluarga angkat Anjang adalah pemeluk Islam yang taat. Anjang ketika diadopsi masih beragama non-muslim. Setelah itu barulah Anjang berpindah agama menjadi Islam dan menambahkan nama baru Mohammad Ali Anjang.
Ali Anyang lahir di Sintang, Kalimantan Barat, 20 Oktober 1920. Tempat kelahirannya memang menjadi pemukiman mayoritas suku Dayak, di Desa Nanga Manantak.
Ali Anyang lahir dari pasangan Lakak yang merupakan ayahnya dan Liang adalah ibunya. Diadopsi oleh keluarga bangsawan membuat Ali Anyang menempuh sekolah bergengsi di Pontianak, Kalimantan Barat. Sekolah Ali Anyang hanya khusus untuk anak-anak dari keluarga bangsawan, pejabat dan juga pemerintah kolonial Belanda.
Meskipun Ali Anyang adalah anak angkat, namun keluarga Raden Mas Suadi Djoyomihardjo amat menyayanginya.