JAKARTA - Rapat dalam rangka persiapan kemerdekaan Indonesia menimbulkan perdebatan-perdebatan mengenai beberapa hal. Salah satunya yaitu perdebatan mengenai tempat pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Dikutip dalam buku “Soekarno Fatmawati Sebuah Kisah Cinta Klasik” yang ditulis oleh Adhe Riyanto, hal-hal yang dibahas dalam rapat tersebut antara lain, teks, penandatanganan, pembacaan, waktu dan tempat pembacaan teks.
BACA JUGA:
Kesepakatan mengenai bunyi proklamasi telah selesai pada dini hari. Kemudian muncul perdebatan baru yaitu mengenai siapa yang akan menandatangani teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Namun, setelah dilakukan pendekatan oleh Sayuti Melik akhirnya ditemukan solusi bahwa kesepakatan penandatanganan teks proklamasi hanya dilakukan oleh Soekarno dan Hatta sebagai wakil-wakil rakyat Indonesia.
BACA JUGA:
Selanjutnya, mengenai tempat pembacaan teks proklamasi masih sempat muncul perdebatan mengenai usulan tempat di lapangan Ikada. Namun, Soekarno langsung mengingatkan untuk dilakukan di halaman rumahnya.
Rapat dengan pembicaraan yang berlangsung alot tersebut selesai sebelum pukul 04.00 dini hari. Pada saat itu, bertepatan dengan bulan Ramadhan sehingga yang beragama Islam masih sempat untuk melaksanakan sahur.
17 Agustus 1945, orang-orang berkumpul di depan kediaman Soekarno dan Fatmawati. Mereka berteriak memanggil Soekarno dan Fatmawati agar segera dilakukan kemerdekaan Indonesia.
Kemudian, Soekarno didampingi Hatta serta beberapa tokoh pemuda pergi menuju halaman rumah. Para pemuda yang berada di depan rumah mengatakan kepada Soekarno bahwa segala sesuatunya telah dipersiapkan.
Sementara itu, Fatmawati bergegas mengambil selembar bendera merah putih yang telah ia persiapkan. Akhirnya, pada sekitar pukul 10.00, Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia resmi dibacakan.
(Nanda Aria)