Ketika Peneliti Jerman Timo Duile Bongkar Sosok Kuntilanak

Tim Okezone, Jurnalis
Jum'at 07 April 2023 02:17 WIB
Illustrasi (foto: dok Freepik)
Share :

JAKARTA - "Kuntilanak" sesosok makhluk berwajah seram, berambut panjang, mengenakan pakaian putih, serta memiliki suara tertawa yang nyaring.

Berdasarkan data yang dihimpun Okezone, nama Kuntilanak sebetulnya diambil dari bahasa Melayu, Puntianak atau Pontianak. Hantu ini dipercaya berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia, atau wanita yang meninggal karena melahirkan dan anak tersebut belum sempat lahir.

Namun, peneliti dan pengajar dari Universitas Bonn, Jerman, Timo Duile mengembangkan sebuah penelitian tentang kuntilanak dari perspektif antropologis. Timo pun berpendapat bahwa narasi Kuntilanak, seperti yang ditemukan dalam cerita rakyat dan di mitos pendirian kota Pontianak, menggambarkan modernitas Melayu tertentu.

Timo mengatakan, pengetahuannya soal kuntilanak ketika dirinya tinggal di daerah Pontianak, Kalimantan Barat pada 2014. Saat itu, ia sedang meneliti soal konsep alam dalam wawasan masyarakat dan aktivis Dayak untuk kepentingan studi lanjutnya.

"Saat berurusan dengan hantu, narasinya secara eksplisit modern, karena mereka membentuk dan bergantung pada pemisahan antara budaya dan alam; beroperasi sebagai sebuah bentuk pencerahan, narasi mengubah alam menjadi objek bagi manusia perkembangan," tulis Timo dalam kesimpulan penelitiannya yang berjudul 'Kuntilanak: Ghost Narratives and Malay Modernity in Pontianak, Indonesia', seperti dilansir dari www.jstor.org.

Dalam hal ini, sambung Timo, pemisahan ini tidak didasarkan pada dikotomi Barat tetapi pada Islam sebagai kekuatan modernisasi. Narasi Pontianak/Kuntilanak, seperti yang muncul dalam mitos perempuan yang diperbudak dan dikuasai oleh laki-laki, mengandung modus negosiasi antara pra-modern dan paradigma modern.

"Bagi mereka, ada 'pergeseran dari mistisisme ke sains'. Masyarakat Melayu, Nicholas dan Kline menjelaskan, mengacu pada Osman (1972:221-2), didasarkan pada interaksi antara tiga pandangan dunia—Islam, kepercayaan tradisional, dan pengetahuan ilmiah Barat— yang bersama-sama merupakan sistem kepercayaan tertentu. Jadi, mereka berpendapat bahwa keduanya Islam dan keyakinan tradisional termasuk dalam kategori pra-modern, berlawanan dengan logika sains empiris modern," bebernya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya