Dalam 33 tahun masa kekuasaannya, Ranavalona I tidak segan-segan untuk menyiksa dan membunuh rakyatnya serta orang asing. Tidak hanya itu, Ranavalona I juga mengisolasi wilayahnya dari segala bentuk pengaruh yang berasal dari luar.
Saat itu, segala bentuk perjanjian yang dilakukan oleh pemimpin sebelumnya dengan Inggris Raya, dibatalkan oleh Ranavalona I. Kemudian Ranavalona I juga memberikan kembali kekuasaan kepada para bangsawan dan juga dukun yang membuat pembangunan disana terhenti. Alhasil, Madagaskar menjadi pulau yang terisolasi secara ekonomi lagi.
Masyarakat miskin yang disebut Fanompoana dipekerjakan secara paksa untuk membangun rumah, memikul para bangsawan dalam tandu, dijadikan tentara. Hal itu dianggap sebagai cara mereka untuk membayar pajak yang tidak mampu mereka bayarkan. Oleh sebab itu, ada banyak masyarakat yang justru mati kelaparan karena kerja paksa tersebut.
Pada tahun 1835, Ranavalona I mendadak jatuh sakit. Akan tetapi dirinya berhasil disembuhkan oleh rakyatnya. Dirinya kemudian menganggap jika kesembuhannya berasal dari kekuatan Sampy, 12 jimat. Akibatnya, Ranavalona I memutuskan untuk menyebarluaskan kembali tradisi lama dan melarang kebebasan beribadah untuk umat kristiani.